11 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.comPT Salim Ivomas Pratama (SIMP) mencatat penurunan laba bersih pada kuartal I 2026 di tengah tekanan biaya produksi dan penyusutan margin keuntungan. Meski demikian, prospek harga crude palm oil (CPO) serta meningkatnya permintaan biodiesel melalui program B50 dinilai masih menjadi penopang utama kinerja emiten sawit tersebut ke depan.

Berdasarkan laporan riset sekuritas per 6 Mei 2026, laba bersih SIMP tercatat sebesar Rp434 miliar atau turun 3,1% secara tahunan (year on year/YoY). Pendapatan perusahaan relatif stabil di level Rp4,87 triliun atau tumbuh tipis 1,1% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Namun, kenaikan biaya produksi sebesar 7,6% membuat laba kotor perusahaan turun 16,4%. Kondisi tersebut menyebabkan margin laba kotor menyusut menjadi 22,5%, sementara laba operasional turun 22,3% menjadi Rp781 miliar. Tekanan pada sisi operasional ini menjadi perhatian utama investor dalam mencermati efisiensi perusahaan di tengah dinamika industri sawit.

Meski profitabilitas tertekan, produksi CPO SIMP justru mengalami kenaikan 3,2% YoY menjadi 162 ribu ton. Peningkatan tersebut ditopang pembelian tandan buah segar (TBS) eksternal serta kenaikan oil extraction rate (OER) menjadi 21,6%.

Manajemen menilai produksi sawit pada awal tahun memang cenderung melemah secara musiman, namun berpotensi membaik pada paruh kedua 2026. Sebagai emiten sektor perkebunan kelapa sawit, SIMP dinilai masih memiliki peluang pertumbuhan seiring membaiknya permintaan domestik dan global.

Dari sisi harga jual, rata-rata harga jual CPO SIMP tercatat Rp14.022 per kilogram atau turun 1,5% YoY. Sementara itu, harga kernel justru meningkat 8,6% dibanding tahun sebelumnya. Stabilnya harga jual tersebut dinilai cukup positif di tengah tekanan harga komoditas global dan fluktuasi pasar internasional.

Baca Juga:  PTPN IV Regional II Perbaiki Akses Jalan Kebun Bah Birung Ulu

Di sisi permintaan, konsumsi biodiesel nasional meningkat 15,3% pada awal 2026 seiring implementasi program B50. Total konsumsi domestik juga naik sekitar 13%, sedangkan ekspor tumbuh 33,9%. Meski demikian, rasio stok terhadap penggunaan masih tergolong tinggi sehingga kenaikan harga CPO dalam jangka pendek diperkirakan masih terbatas.

Melihat kondisi tersebut, analis tetap mempertahankan rekomendasi BUY untuk saham SIMP dengan target harga Rp870 per saham. Valuasi perusahaan dinilai masih menarik seiring potensi penguatan siklus sektor sawit dan dukungan kebijakan biodiesel nasional.

Dalam laporan riset disebutkan bahwa meskipun terdapat revisi penurunan estimasi laba sekitar 25–23%, prospek jangka menengah sektor sawit masih cukup positif untuk dicermati investor.

Secara operasional, produksi palm kernel (PK) SIMP pada kuartal I 2026 tercatat sebesar 36 ribu ton atau relatif stabil dibanding tahun sebelumnya. Sementara produksi tandan buah segar inti (FFB inti) turun 4,9% menjadi 565 ribu ton.

Bagi investor, tekanan margin perusahaan menjadi tantangan utama dalam jangka pendek. Namun, stabilnya produksi dan harga jual CPO, ditambah sentimen positif program B50, dinilai masih mampu menopang prospek saham SIMP ke depan.

Secara keseluruhan, kinerja SIMP pada awal 2026 mencerminkan tekanan dari sisi biaya produksi meskipun pendapatan perusahaan tetap terjaga. Prospek harga CPO dan peningkatan kebutuhan biodiesel diperkirakan masih menjadi faktor utama yang dapat mendukung kinerja perusahaan pada periode selanjutnya.

Sumber: Bareksa.com