24 Agustus 2025
Share:

Bisnissawit.com – Indonesian Palm Oil Smallholder Conference and Expo (IPOSC) ke-5 akan digelar pada 24–26 September 2025 di Hotel Q Qubu Resort, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Agenda berskala nasional ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Forum Petani Kelapa Sawit Jaya Indonesia (POPSI) dengan dukungan Media Perkebunan.

Sekretaris Jenderal POPSI, Hendra J. Purba, menuturkan bahwa IPOSC ke-5 mengangkat tema “Sinergitas Stakeholder Mengatasi Stagnasi Produktivitas Sawit Rakyat – Kemitraan, PSR, ISPO, dan Inovasi Petani”. Acara ini turut didukung oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Ditjen Perkebunan Kementerian Pertanian, serta Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Alasan Pemilihan Kubu Raya

Kabupaten Kubu Raya dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan karena perannya yang signifikan dalam peta perkebunan kelapa sawit Kalbar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), luas perkebunan sawit rakyat di wilayah ini mencapai lebih dari 18.000 hektar dengan dua unit pabrik kelapa sawit (PKS) yang beroperasi. Angka tersebut lebih besar dibandingkan luas kebun karet yang sekitar 16.000 hektar, meski masih tertinggal jauh dari perkebunan kelapa bulat rakyat yang diperkirakan mencapai 33.000 hektar.

Dari sisi produksi, hasil panen tandan buah segar (TBS) pada 2024 tercatat sebesar 40,01 ribu ton. Jumlah ini relatif stagnan bila dibandingkan hasil survei BPS 2021 yang mencapai 40 ribu ton.

Potensi Lahan dan Keberlanjutan

Menariknya, Kubu Raya memiliki potensi perkebunan sawit swadaya seluas 14.744 hektar yang sudah berstatus clean and clear (CnC) atau berada di area penggunaan lain (APL) di luar kawasan hutan.

Pemerintah Kabupaten Kubu Raya mendorong petani sawit swadaya untuk memperoleh sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) demi peningkatan mutu dan keberlanjutan. Selain ISPO, pemerintah daerah juga mengarahkan petani untuk mengadopsi sertifikasi lain seperti Standar Nasional Indonesia (SNI) guna memperkuat tata kelola perkebunan dan meningkatkan pendapatan.

Baca Juga:  Empat Hari Jauh dari Kebun: Investasi SDM Petani Sawit untuk Masa Depan Berkelanjutan

Inovasi Petani

Sebagai langkah diversifikasi, Pemkab Kubu Raya menginisiasi praktik intercropping atau tumpang sari bagi petani sawit, terutama saat menjalankan program peremajaan sawit rakyat (PSR). Tanaman padi gogo menjadi salah satu pilihan tumpang sari yang mulai didorong untuk menambah nilai ekonomi sekaligus mendukung ketahanan pangan lokal.