Bisnissawit.com – Tandan kosong kelapa sawit (TKKS), yang selama ini dikenal sebagai limbah biomassa, ternyata menyimpan potensi besar sebagai bahan baku material karbon ramah lingkungan untuk pengembangan superkapasitor.
Ketersediaannya yang melimpah di pabrik kelapa sawit (PKS) di Indonesia diyakini mampu menjadikan superkapasitor sebagai salah satu teknologi penting dalam mewujudkan kemandirian energi nasional.
“Inovasi ini tidak hanya berkontribusi pada pengembangan teknologi penyimpanan energi masa depan, tetapi juga menjadi bagian dari percepatan transisi menuju energi bersih,” ujar Prof. Yusuf Nur Wijayanto, Kepala Pusat Riset Elektronika (PRE) BRIN, saat membuka webinar SISTEM #5 bertajuk “Advances in Supercapacitor Devices: From Microstructure Engineering to Biomass-Derived Carbon Material”.
Webinar tersebut mempertemukan para pakar untuk membahas perkembangan terkini superkapasitor, mulai dari rekayasa mikrostruktur hingga pemanfaatan material berkelanjutan.
Menurut Prof. Yusuf, riset di bidang superkapasitor memiliki peran vital dalam mendukung agenda energi bersih nasional. “Pemanfaatan limbah biomassa sawit sebagai sumber material karbon ramah lingkungan serta penerapan rekayasa mikrostruktur menjadi faktor penting dalam peningkatan kinerja superkapasitor,” jelasnya. Ia berharap forum ini mampu mendorong diseminasi hasil riset serta memperkuat ekosistem penelitian lewat kolaborasi lintas sektor.
Dalam kesempatan yang sama, Prof. Rike Yudianti, peneliti BRIN, menegaskan bahwa meningkatnya produksi minyak sawit dapat diikuti dengan pemanfaatan TKKS sebagai material bernilai tinggi. Berdasarkan hasil penelitian, TKKS dapat diolah menjadi tiga produk utama: porous carbon graphite, nanocellulose, dan nano-silica.
Ketiga material ini menjadi kunci penting dalam pengembangan superkapasitor. Perangkat berbahan dasar TKKS terbukti memiliki performa stabil bahkan setelah ribuan kali siklus penggunaan. “Kami menargetkan terciptanya superkapasitor dengan performa setara baterai, berbasis keluarga karbon yang lebih ramah lingkungan,” ungkap Rike.
Ia menambahkan, sinergi antara riset material biomassa lokal dan inovasi mikrostruktur merupakan strategi krusial untuk menciptakan teknologi energi bersih yang berkelanjutan.
Hal senada disampaikan Prof. Markus Diantoro, Guru Besar Fisika Universitas Negeri Malang, yang menekankan pentingnya modifikasi mikrostruktur untuk meningkatkan performa superkapasitor. “Dengan rekayasa ini, kita bisa menghadirkan perangkat penyimpan energi yang lebih efisien dan berkapasitas besar, sehingga mampu mendukung optimalisasi energi terbarukan,” tegasnya.
Pemanfaatan limbah sawit yang diolah menjadi teknologi canggih seperti superkapasitor menunjukkan bahwa sektor perkebunan Indonesia berpotensi besar menjadi penopang transisi energi nasional di masa depan. (*)