3 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Keputusan pemerintah membatalkan rencana penerapan mandatori biodiesel B50 pada 2026 dipandang sebagai sentimen negatif jangka pendek bagi emiten minyak sawit mentah (CPO). Dengan kebijakan tersebut, Indonesia tetap melanjutkan program B40 atau campuran 40% sawit dalam solar yang saat ini sudah berjalan.

Analis Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai batalnya B50 berpotensi menekan sentimen sektor CPO dalam waktu dekat. Pasalnya, tambahan permintaan domestik yang sebelumnya diharapkan dari program B50 otomatis tidak terealisasi.

Selain itu, pemerintah juga menaikkan pungutan ekspor CPO dari 10% menjadi 12,5% guna mendukung pembiayaan program B40. Kebijakan ini dinilai dapat mempersempit margin keuntungan emiten sawit.

Meski begitu, Azis melihat dampak negatif tersebut tidak akan terlalu dalam. Program B40 yang tetap berjalan dinilai masih cukup menopang permintaan dalam negeri sekaligus menjaga rata-rata harga jual (average selling price/ASP) emiten.

“Penundaan B50 dan kenaikan pajak ekspor CPO memang menjadi sentimen negatif jangka pendek karena menekan margin serta menghilangkan potensi tambahan permintaan domestik. Namun dampaknya relatif terbatas karena B40 tetap berlanjut,” ujar Azis, Jumat (30/1/2026).

Investor juga perlu mencermati sejumlah faktor lain yang dapat memengaruhi kinerja sektor ini, seperti arah kebijakan biodiesel ke depan, perubahan kebijakan pajak ekspor, fluktuasi harga CPO global, hingga isu lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang masih menjadi sorotan terhadap industri sawit.

Di sisi lain, peluang perbaikan kinerja emiten CPO masih terbuka. Momentum Ramadan dan Idulfitri berpotensi mendorong peningkatan konsumsi energi serta produk turunan sawit di pasar domestik, sebagaimana tren historis yang kerap terjadi.

Azis menilai, selama harga CPO relatif stabil dan permintaan domestik terjaga, prospek laba bersih emiten sawit pada 2026 tetap positif. Hanya saja, laju pertumbuhannya kemungkinan lebih moderat dibandingkan ekspektasi saat wacana B50 masih menguat.

Baca Juga:  Mengulas Layanan BPTP Pontianak Terbaru 2024

Dari sisi valuasi, sektor CPO dinilai masih menarik. Salah satu saham yang direkomendasikan adalah PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS). Saat ini, SSMS diperdagangkan dengan rasio price to earnings (P/E) sekitar 12,26 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata P/E tiga tahun terakhir yang berada di level 14,53 kali.

Azis merekomendasikan trading buy saham SSMS dengan target harga di kisaran Rp 1.820–Rp 1.840 per saham. Adapun level support berada di rentang Rp 1.550–Rp 1.560 per saham.

Sumber: msn.com