Bisnissawit.com — Produktivitas pabrik kelapa sawit (PKS) tidak semata ditentukan oleh kecanggihan mesin, tetapi justru sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia (SDM) yang mengoperasikan dan mengelolanya. Hal ini ditegaskan Ketua P3PI Bidang Pabrik Kelapa Sawit sekaligus konsultan peningkatan produktivitas PKS, Ir. Posma Sinurat, MT, yang menyebut peningkatan kinerja pabrik harus dimulai dari manusia.
Menurut Posma, masih banyak pabrik yang menjadikan mesin sebagai alasan utama ketika produktivitas menurun. Padahal, mesin yang sama bisa menghasilkan performa berbeda tergantung kompetensi operator, teknisi, dan manajemen.
“Mesin memang penting, tetapi mesin hanya alat. Ia tidak berpikir, tidak memilih prioritas, tidak menjaga disiplin operasi, dan tidak mengambil keputusan saat terjadi deviasi proses. Semua itu dilakukan manusia,” tulis Posma.
Ia menjelaskan, produktivitas PKS pada dasarnya merupakan kemampuan mengolah tandan buah segar (TBS) menjadi crude palm oil (CPO) dan kernel dengan losses minimal, mutu terjaga, serta biaya terkendali. Namun, tanpa dukungan SDM yang kompeten dan disiplin, mesin terbaik pun tidak akan mampu bekerja optimal.
“Ketika manusia tidak siap, mesin terbaik pun akan tetap menghasilkan oil loss tinggi, downtime panjang, konsumsi steam boros, kualitas tidak stabil, dan biaya maintenance membengkak,” ujarnya.
Sebaliknya, Posma menegaskan mesin dengan spesifikasi standar masih bisa memberikan hasil maksimal jika dioperasikan oleh tenaga kerja yang kompeten dan didukung sistem kerja yang baik.
“Ketika manusia kompeten dan sistem kerja rapi, mesin yang ‘biasa saja’ sering bisa menghasilkan performa yang sangat baik,” tambahnya.
Kepemimpinan dan Budaya Kerja Jadi Kunci
Posma menekankan pentingnya membangun Quality People yang mencakup sikap kerja, pengetahuan, keterampilan, dan kemauan. Selain itu, kepemimpinan yang disiplin dalam menjalankan perencanaan, pengawasan, dan evaluasi juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan produktivitas.
“Produktivitas naik ketika atasan tidak sekadar memerintah, tetapi membangun ritme kerja seperti briefing yang tajam, pembagian tugas jelas, inspeksi rutin, evaluasi berbasis data, serta pembinaan yang konsisten,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa investasi mesin baru tidak akan efektif tanpa kesiapan SDM dan sistem kerja yang memadai.
“Urutan yang benar adalah: benahi manusia dan sistem kerja terlebih dahulu, lalu evaluasi kebutuhan mesin berbasis data,” tegasnya.
Menurutnya, produktivitas PKS pada akhirnya merupakan hasil dari konsistensi manusia dalam menjalankan standar kerja dan memperbaiki setiap penyimpangan.
“Mesin memang menentukan batas kemampuan teknis, tetapi manusialah yang menentukan apakah batas itu tercapai atau tidak. Karena itu, jika ingin produktivitas meningkat nyata dan berkelanjutan, mulailah dari prinsip sederhana namun tegas: utamakan manusia, bukan mesin,” pungkasnya.
Sebagai bagian dari upaya mendorong peningkatan kompetensi SDM dan adopsi teknologi di industri kelapa sawit, pelaku industri juga didorong berpartisipasi dalam Technology & Talent Palm Oil Mill Indonesia (TPOMI) 2026, konferensi dan pameran teknologi pabrik kelapa sawit tahunan ke-4 yang berfokus pada inovasi dan pengembangan talenta industri sawit.
Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung pada 7–9 Juli 2026 di Regale International Convention Center, Medan, dan diharapkan menjadi forum strategis bagi praktisi, akademisi, dan penyedia teknologi untuk berbagi pengetahuan, meningkatkan kompetensi, serta memperkuat produktivitas industri sawit nasional secara berkelanjutan.