25 Maret 2026
Share:

Bisnissawit.com — Kementerian Pertanian (Kementan) makin serius memperkuat langkah mitigasi untuk menghadapi musim kemarau yang berpotensi menekan sektor perkebunan nasional. Langkah ini dilakukan supaya produktivitas komoditas tetap stabil meski kondisi cuaca makin kering.

Sejumlah komoditas andalan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, hingga tebu jadi yang paling rentan terdampak jika kemarau tidak diantisipasi sejak awal. Karena itu, Kementan lewat Direktorat Jenderal Perkebunan terus menggenjot berbagai strategi agar subsektor ini tetap kuat dan adaptif.

Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan pentingnya strategi adaptasi di lapangan. “Mitigasi terus diperkuat melalui budidaya adaptif, penggunaan benih unggul tahan kering, serta pendampingan kepada pekebun agar produksi tetap terjaga,” ujarnya.

Langkah konkret yang dilakukan antara lain penggunaan varietas tahan kekeringan, konservasi tanah dan air, hingga pengelolaan kebun yang lebih efisien dalam penggunaan air. Selain itu, pendampingan juga ditingkatkan untuk mengantisipasi serangan hama dan penyakit yang biasanya meningkat saat musim kemarau.

Plt Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, juga menyoroti pentingnya pengelolaan kebun yang lebih adaptif. “Konservasi tanah dan air serta pemanfaatan informasi iklim menjadi kunci agar perkebunan tetap produktif di tengah kemarau,” katanya.

Sebagai bentuk aksi nyata, pemerintah mengembangkan demplot mitigasi dan adaptasi iklim. Lewat kebun percontohan ini, pekebun dilatih teknik hemat air, cara mengelola kebun saat kemarau, hingga mengolah limbah jadi pupuk organik.

Penguatan tata kelola air juga dilakukan, termasuk di lahan gambut dengan pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan tanah. Di sisi lain, program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) terus digencarkan guna mencegah risiko kebakaran saat musim kering.

Kesiapsiagaan di lapangan juga diperkuat melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api. Pekebun pun diimbau menerapkan langkah adaptif seperti penggunaan pupuk organik, efisiensi pemupukan, hingga rutin memantau kondisi tanaman. Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga jadi solusi untuk menjaga cadangan air.

Baca Juga:  ETIKAP 2025: Kolaborasi untuk Masa Depan Perkebunan Lebih Tangguh

Dengan berbagai upaya tersebut, pemerintah optimistis sektor perkebunan tetap bisa bertahan bahkan berkembang di tengah tekanan kemarau. “Menjaga kebun hari ini berarti menjaga ekonomi dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” ujar Roni.

Sementara itu, salah satu pekebun binaan mengaku pendampingan yang diberikan sangat membantu menghadapi perubahan iklim, termasuk kemarau yang makin panjang dan tidak menentu. “Bagi kami, kebun adalah masa depan. Saat kemarau datang lebih lama, kami harus lebih pintar mengatur pola tanam dan menjaga ketersediaan air. Dengan pola tanam yang adaptif dan ramah lingkungan, kami siap menjaga perkebunan Indonesia tetap tangguh menghadapi tantangan iklim dunia,” ujarnya.