19 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.com – Palembang kembali disebut sebagai bagian penting dalam sejarah awal perkembangan industri sawit nasional. Dalam sebuah tulisan opini bertajuk Palembang Dalam Jejak 115 Tahun Sawit Indonesia yang ditulis oleh Ketua APINDO Sumatera Selatan sekaligus Chairman Founder WISPO, Sumarjono Saragih, menegaskan bahwa Palembang memiliki rekam jejak historis dalam perkembangan sawit Indonesia yang selama ini jarang disorot.

Menurut Sumarjono, sejarah sawit nasional tidak hanya berpusat di Tanah Deli, Sumatera Utara, tetapi juga memiliki akar kuat di Palembang dan Sumatera Selatan. Ia menyebut, benih sawit yang dibawa dari Afrika Barat oleh Dr. Pryce pada 1848 awalnya ditanam di Kebun Raya Bogor sebelum kemudian diuji coba di sejumlah wilayah Hindia Belanda, termasuk Palembang.

“Di masa awal, benih itu berakar dan tumbuh di Palembang. Tanah uji coba benih yang nyaris terlupa. Jejak itu ada dan nyata. Bahkan turut membawa Indonesia jadi raja sawit dunia,” tulis Sumarjono dalam opininya.

Ia menjelaskan, berdasarkan catatan sejarah sekitar tahun 1858, benih sawit dari Bogor ditanam di wilayah Karesidenan Palembang di lahan sekitar 1,2 hektare. Hasil percobaan tersebut dinilai cukup berhasil karena pohon mulai berbuah pada tahun keempat dengan pertumbuhan yang lebih cepat dibanding habitat asalnya.

“Palembang dan Sumatera Selatan bukan saja salah satu provinsi sentra sawit. Lebih dari itu, provinsi ini punya peran historis yang patut dijadikan bagian dari narasi modal pembangunan masa kini,” lanjutnya.

Sumarjono menyebut, meski kemudian Tanah Deli lebih dikenal sebagai tonggak industri sawit komersial sejak 1911, Palembang tetap memiliki kontribusi penting dalam perjalanan awal komoditas tersebut di Indonesia.

Saat ini, Sumatera Selatan tercatat memiliki sekitar 1,5 juta hektare kebun sawit dari total 16,4 juta hektare sawit nasional. Menurutnya, sawit kini bukan hanya soal industri dan bisnis, tetapi telah menjadi denyut ekonomi masyarakat luas.

Baca Juga:  Ketua Umum GAPKI Menyesalkan Kasus Penyekapan Ibu dan Anak oleh Petinggi Perusahaan Sawit di Babel

“Tak berlebihan menyatakan isi dompet wong kito ada paparan aroma sawit,” ujar Sumarjono.

Ia juga menyoroti lahirnya benih sawit unggul dari Sumatera Selatan seperti D x P Sriwijaya dan D x P Tania Selatan yang dinilai menjadi bukti kontribusi daerah terhadap inovasi industri sawit nasional.

Selain itu, Sumarjono menegaskan pentingnya pembangunan sawit berkelanjutan melalui perlindungan pekerja dan petani sawit. Ia menyebut pada 2020 pihaknya bersama Pemerintah Kabupaten Musi Banyuasin mendeklarasikan MSPOI (Muba Sustainable Palm Oil Initiatives) sebagai upaya memperkenalkan pendekatan perlindungan sosial bagi petani sawit.

Gerakan tersebut kemudian dilanjutkan melalui program GEBIE (Gender Equality in Business Initiatives Enthusiast) pada 2025 yang fokus pada perlindungan pekerja perempuan di sektor sawit.

“Ini saat yang tepat bangkit menghidupkan catatan sejarah. Membangun narasi baru yang relevan dengan kebutuhan pembangunan Bumi Sriwijaya modern,” tulisnya.

Di akhir tulisannya, Sumarjono mengajak seluruh pihak menjadikan momentum 115 tahun sawit Indonesia sebagai pengingat kontribusi daerah terhadap pembangunan nasional. “Melalui industri sawit, Palembang Sumatera Selatan turut wujudkan Asta Cita dan Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.