Bisnissawit.com – Harga Crude Palm Oil (CPO) mencatat penguatan terbatas pada penutupan perdagangan akhir pekan lalu. Sepanjang sepekan, harga komoditas ini mengalami kenaikan ringan seiring dinamika pasar yang masih penuh ketidakpastian.
Dikutip dari Bloomberg, Senin (26/5/25), pada Jumat, (23/5/25) kemarin, kontrak CPO untuk pengiriman Agustus di Bursa Malaysia ditutup di level MYR 3.827 per ton, naik tipis 0,18% dibandingkan hari sebelumnya. Secara keseluruhan, kinerja mingguan juga menunjukkan kenaikan serupa, yaitu 0,18% point-to-point.
Namun, kenaikan ini terhambat oleh sejumlah faktor. Malaysian Palm Oil Association (MPOA) melaporkan adanya kenaikan produksi sawit Malaysia sebesar 3,51% pada periode 1–20 Mei dibandingkan bulan sebelumnya.
Di sisi lain, penguatan nilai tukar ringgit terhadap dolar AS sebesar 1,51% turut menekan potensi lonjakan harga, karena harga CPO yang berbasis ringgit menjadi relatif lebih mahal bagi investor global.
Teknikal: Antara Oversold dan Peluang Rebound
Dari sisi teknikal, tren mingguan CPO masih menunjukkan kecenderungan bearish, tercermin dari Relative Strength Index (RSI) yang berada di angka 36, jauh di bawah ambang netral 50. Sementara itu, Stochastic RSI tercatat di angka 8, menunjukkan kondisi oversold ekstrem yang membuka peluang teknikal untuk pemulihan harga.
Dengan tekanan jual yang sudah cukup dalam sejak awal 2025, di mana harga CPO telah turun hampir 19% year-to-date. Potensi rebound terbuka lebar. Level resistance yang patut diawasi pekan ini berada di MYR 3.884 per ton (MA-5). Jika mampu ditembus, target selanjutnya bisa mengarah ke MYR 4.073, bahkan MYR 4.439 sebagai resistance jangka panjang (MA-200).
Sementara itu, level support terdekat berada di MYR 3.798 per ton, dan jika level ini jebol, harga berpotensi turun menuju MYR 3.669 hingga MYR 3.545 per ton sebagai batas support ekstrem. (*)