7 April 2026
Share:

Bisnissawit.com – Pascal Biotech Indonesia memperkuat langkah riset dan pengembangan pengendalian penyakit Ganoderma pada kelapa sawit melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan PT RPN dan Fakultas Pertanian IPB.

Kerja sama tersebut difokuskan pada pengembangan teknologi pengendalian Ganoderma berbasis bakteri Streptomyces GanoSA1. Selain penandatanganan MoU, Pascal Biotech Indonesia juga menjalin surat perjanjian kerja sama (SPK) dengan IPB terkait uji efikasi pengendalian Ganoderma menggunakan Streptomyces GanoSA1.

Direktur Pascal Biotech Indonesia, Miftachul Anwar, mengatakan kolaborasi ini menjadi langkah penting dalam menghadirkan solusi baru bagi industri sawit, khususnya dalam mengatasi serangan Ganoderma boninense yang selama ini menjadi salah satu penyakit paling merugikan.

“Pascal Biotech Indonesia telah melakukan MoU dengan PT RPN dalam bidang research dan pengembangan terkait pengendalian Ganoderma berbasis bakteri Streptomyces GanoSA1,” ujar Miftachul Anwar kepada Media Bisnis Sawit, Selasa (7/4/26).

Menurutnya, kerja sama dengan IPB tidak hanya mencakup pengujian efektivitas Streptomyces GanoSA1 dalam menekan perkembangan Ganoderma, tetapi juga penelitian mengenai kehidupan mikroba di kedalaman tanah pada areal perkebunan kelapa sawit.

“Termasuk MoU dan SPK dengan IPB terkait uji efikasi pengendalian Ganoderma dengan bakteri Streptomyces GanoSA1 serta pengujian kehidupan mikroba di kedalaman tanah pada areal kelapa sawit yang terkait dengan pengendalian Ganoderma,” katanya.

Ia menjelaskan, salah satu keunggulan Streptomyces GanoSA1 adalah kemampuannya bertahan hidup di lapisan tanah yang lebih dalam dibandingkan mikroba lainnya.

“Streptomyces punya kelebihan dapat hidup di kedalaman sampai 1,5 meter sehingga masih sangat efektif mengendalikan Ganoderma boninense. Ini sebagai temuan terbaru dalam bidang teknologi bio dalam pengendalian Ganoderma,” ungkap Miftachul.

Ganoderma boninense diketahui menjadi ancaman serius bagi produktivitas kelapa sawit karena menyerang sistem perakaran dan batang tanaman. Dengan kemampuan Streptomyces GanoSA1 bertahan di kedalaman tanah, teknologi ini diharapkan dapat memberikan perlindungan lebih optimal terhadap tanaman sawit, terutama di area yang rentan terinfeksi.

Baca Juga:  HR CPO Desember Turun, Pemerintah Tetapkan BK USD 74/MT dan PE 10%

Kolaborasi antara dunia industri dan perguruan tinggi ini diharapkan mampu mempercepat lahirnya inovasi pengendalian penyakit tanaman yang lebih efektif, ramah lingkungan, dan aplikatif di lapangan.