Bisnissawit.com — Konservasi tanah berarti memanfaatkan setiap bidang lahan sesuai daya dukungnya serta mengelolanya dengan kaidah yang tepat agar terhindar dari degradasi. Hal ini disampaikan Abdul Rauf, Guru Besar Konservasi Tanah dan Pengelolaan DAS Universitas Sumatera Utara, dalam FGD bertajuk Perkebunan Sawit, Perubahan Tata Kelola Lahan dan Risiko Banjir: Data, Dampak, dan Solusi Berkelanjutan.
Konservasi air menekankan pemanfaatan air hujan secara efisien serta pengaturan aliran agar tidak menimbulkan banjir saat musim hujan dan tetap tersedia cadangan air pada musim kemarau. Setiap aktivitas pengelolaan tanah akan memengaruhi tata air dan lingkungan sekitar, sehingga konservasi tanah dan air harus berjalan beriringan.
Secara umum, konservasi tanah dan air bertujuan mencegah kerusakan akibat erosi, banjir, longsor, serta akumulasi limbah dan zat beracun. Upaya ini penting untuk menjaga kesuburan tanah tetap produktif, merehabilitasi lahan yang telah rusak, serta mempertahankan dan meningkatkan produktivitas tanah agar dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan.
Dalam konteks pengelolaan air, tujuan konservasi adalah menjaga kuantitas, waktu aliran, dan kualitas air melalui praktik pengelolaan lahan yang tepat, sekaligus mengoptimalkan pemanfaatan air dengan metode yang efisien.
Prinsip dasar konservasi pada lahan perkebunan meliputi budidaya sesuai kelas kesesuaian lahan, peningkatan kemampuan tanah menyerap air (infiltrasi) untuk menekan limpasan permukaan, banjir, erosi, dan longsor, serta peningkatan kapasitas simpan air tanah. Produktivitas lahan didukung melalui terasering, penggunaan tanaman penutup tanah (cover crops), pengelolaan bahan organik seperti serasah, pemanfaatan limbah (land application), dan optimalisasi penggunaan lahan.
Penerapan konservasi di perkebunan dilakukan melalui terasering, cover crops, dan pembuatan rorak. Rorak adalah parit konservasi yang dibuat melintang lereng pada lahan miring, dengan lebar sekitar 0,5–0,6 meter, kedalaman 0,5–0,7 meter, dan panjang menyesuaikan kontur lahan. Rorak dianjurkan pada gawangan panen di kebun kelapa sawit maupun karet karena area ini cenderung memadat dan berfungsi sebagai jalur aliran air saat hujan.
Peningkatan infiltrasi juga dapat dilakukan dengan pembuatan piringan berpola cekung di tengah dan berbibir di tepi, sehingga mampu menampung air hujan sekaligus mengurangi kehilangan pupuk akibat erosi. Pada kebun kelapa sawit, piringan berdiameter sekitar 2 meter dengan cekungan sedalam ±10 cm dapat menampung sekitar 630 liter air per pohon atau setara 85.050 liter per hektare sekitar 8,5 mobil tangki berkapasitas 10.000 liter.
Adapun penempatan tandan kosong sawit pada piringan sebaiknya berjarak 1,5–2 meter dari pangkal batang. Pengaturan ini bertujuan mencegah immobilisasi berlebihan serta mengurangi risiko perkembangan jamur dan mikroba antagonis di sekitar batang tanaman.