Bisnissawit.com – Ketegangan geopolitik di Timur Tengah semakin meningkat setelah serangan udara oleh Amerika Serikat dan Israel menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, menurut media pemerintah. Akibatnya, Iran kini menghadapi masa transisi yang penuh tantangan politik.
Dalam eskalasi konflik tersebut, Iran menutup Selat Hormuz jalur laut vital yang dilewati sekitar 30% pasokan minyak global, termasuk bahan bakar jet dan produk migas lainnya yang memicu kekhawatiran gangguan pasokan energi dunia.
Penutupan jalur ini diperkirakan berdampak pada harga minyak mentah dunia, yang sudah melonjak tajam sebagai respons pasar terhadap konflik tersebut. Para analis memperingatkan bahwa harga minyak bisa terus menguat jika kondisi perang terus memanas, karena penyumbang pasokan menjadi tidak stabil.
Karena itu, komoditas lain yang memiliki hubungan kuat dengan harga energi juga turut terpengaruh, termasuk minyak sawit mentah (CPO). Berdasarkan pengamatan sebelumnya terhadap kondisi geopolitik dan pasar global, konflik seperti antara Iran dan Israel telah mendorong CPO ke level harga yang lebih tinggi. Menurut laporan pasar, harga CPO kontrak beberapa periode perdagangan melonjak dan mencapai level tertinggi dalam beberapa pekan, dipengaruhi oleh lonjakan pasar minyak global.
Faktor utamanya adalah bahwa kenaikan harga minyak mentah sering menarik permintaan lebih kuat pada minyak nabati, termasuk sawit, sebagai komoditas yang bisa dimanfaatkan dalam biofuel atau substitusi energi, sehingga turut menyokong harga CPO naik.
Namun, pengaruh konflik terhadap pasar CPO tidak selalu searah. Ada juga situasi di mana fluktuasi geopolitik yang mereda justru bisa menekan harga minyak nabati, dan jika pasokan sawit melimpah atau permintaan global melemah, harga CPO bisa bergerak turun kembali
Sebagai salah satu komoditas ekspor unggulan Indonesia, harga CPO yang naik berpotensi menguntungkan produsen sawit, misalnya petani dan pemain di hilir industri sawit namun fluktuasi besar juga membawa risiko pada stabilitas pasar dan strategi pasokan jangka panjang.
Sumber: Kontan, Reuters