Bisnissawit.com – Persatuan Organisasi Petani Sawit Indonesia (POPSI) menegaskan bahwa pujian Presiden Prabowo Subianto terhadap kelapa sawit sebagai miracle crop harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang melindungi petani sawit, terutama petani kecil.
Ketua Umum POPSI, Mansuetus Darto, menyatakan bahwa selama ini sawit kerap dipuji sebagai penopang energi, pangan, dan ekonomi nasional. Namun, menurutnya, kondisi petani sawit rakyat masih jauh dari kata aman.
“Jika sawit disebut ‘tanaman ajaib’ dan tulang punggung energi-pangan, maka petani sawit, terutama skala kecil, harus menjadi pihak yang dilindungi,” ujar Mansuetus dalam keterangan pers di Jakarta, Senin (2/2/2026).
POPSI menilai situasi perkebunan sawit rakyat semakin mengkhawatirkan. Salah satu persoalan yang disorot adalah praktik penyitaan kebun dan hasil panen yang dinilai kerap terjadi tanpa dialog dan tanpa penyelesaian menyeluruh.
Mansuetus menegaskan bahwa penyitaan kebun tidak boleh dilakukan secara sepihak. Ia menilai dialog harus menjadi langkah awal, terutama dalam kasus yang berkaitan dengan klaim kawasan hutan berbasis penunjukan.
Menurut POPSI, ketidakjelasan tata ruang serta tumpang tindih status kawasan kerap mengorbankan masyarakat, termasuk masyarakat adat, yang menggantungkan hidup dari kebun sawit.
Selain itu, POPSI juga menyoroti meningkatnya konflik sosial di wilayah sentra sawit. Banyak konflik terjadi antara masyarakat dan pihak kerja sama operasi (KSO), namun belum diimbangi mekanisme penyelesaian yang transparan, cepat, dan berkeadilan.
“Bagi petani kecil, penyitaan kebun ini adalah pemutusan penghidupan, mematikan roda ekonomi pedesaan,” tegas Mansuetus.
Ia juga mempertanyakan transparansi tata kelola KSO, mulai dari standar kredibilitas pelaksana hingga pengelolaan dana escrow.
“Apakah negara mendapatkan dana sisa setelah dipotong oleh KSO? Jangan sampai ada kebocoran pada kebun sengketa, belum final, pengelolaan sementara yang nantinya negara bisa rugi lebih banyak,” katanya.
Sebelumnya, Presiden Prabowo dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) Pemerintah Pusat dan Daerah 2026 di Sentul, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menegaskan posisi strategis sawit bagi Indonesia.
“Kelapa sawit itu bukan hanya untuk minyak goreng,” kata Prabowo.
Ia menyebut produk turunan sawit telah dimanfaatkan luas, mulai dari pangan, produk kebersihan, hingga energi seperti biodiesel, solar, dan avtur. Bahkan, menurutnya, permintaan sawit dari berbagai negara terus meningkat.
“Saya ke Mesir, ke Pakistan, ke Rusia, sampai Belarus, semuanya minta kelapa sawit,” ujar Prabowo.
Bagi POPSI, pengakuan tersebut seharusnya menjadi momentum memperkuat perlindungan petani sawit rakyat. Tanpa kebijakan yang berpihak dan tata kelola yang adil, mereka menilai pujian terhadap sawit tidak akan sejalan dengan realitas yang dihadapi petani di lapangan.