Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (CPO) berjangka Malaysia kembali mencatat penguatan pada perdagangan Jumat (22/8), menandai kenaikan mingguan ketiga berturut-turut. Dikutip dari Reuters, kenaikan ini ditopang oleh lonjakan harga minyak nabati pesaing di Bursa Dalian dan Chicago, permintaan ekspor yang tetap solid, serta pertumbuhan produksi yang masih terbatas.
Kontrak CPO untuk pengiriman November di Bursa Malaysia Derivatives Exchange naik 37 ringgit atau 0,83% ke posisi 4.497 ringgit per metrik ton (setara USD1.063,62) pada sesi tengah hari. Secara mingguan, kontrak tersebut sudah menguat sekitar 0,56%.
“Produksi pada Agustus tergolong rendah. Data awal hanya menunjukkan pertumbuhan sekitar 2–3%, sementara ekspor diperkirakan akan tetap kuat hingga September,” ungkap Paramalingam Supramaniam, Direktur Pelindung Bestari, sebuah pialang berbasis di Selangor.
Pengaruh Minyak Nabati Saingan
Harga CPO cenderung mengikuti pergerakan minyak nabati lain karena bersaing di pasar global. Kontrak soyoil di Bursa Dalian naik 0,52%, sementara kontrak minyak sawit di bursa yang sama terkoreksi 0,17%. Di sisi lain, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) melemah 0,26% setelah sehari sebelumnya melonjak hingga 4,73%.
Pasar juga terpengaruh oleh langkah India yang untuk pertama kalinya mengimpor minyak sawit dari Kolombia dan Guatemala. Impor ini terjadi karena kedua negara tersebut menawarkan diskon besar akibat kelebihan stok, menurut laporan dari empat sumber perdagangan.
Ekspor Malaysia dan Faktor Mata Uang
Data dari Intertek Testing Services dan AmSpec Agri Malaysia menunjukkan ekspor minyak sawit Malaysia periode 1–20 Agustus meningkat antara 13,6% hingga 17% dibandingkan bulan sebelumnya. Di sisi lain, pelemahan ringgit Malaysia sebesar 0,14% terhadap dolar AS membuat harga CPO menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.
Sentimen Kebijakan Global
Dari sisi kebijakan energi global, pemerintahan Presiden AS Donald Trump dikabarkan segera memutuskan permintaan keringanan aturan biofuel bagi kilang kecil. Namun, keputusan untuk mewajibkan kilang besar meningkatkan pencampuran biofuel diperkirakan masih ditunda.
Sementara itu, analis teknikal Reuters, Wang Tao, menilai harga CPO saat ini bergerak dalam kisaran netral 4.475–4.542 ringgit per ton.
“Pergerakan di luar rentang tersebut akan menjadi penentu arah harga selanjutnya,” ujarnya.