12 Juli 2025
Share:

Bisnissawit.com — Subholding PTPN IV PalmCo kembali mencatatkan capaian signifikan di sektor kelapa sawit. Dalam panen perdana pascareplanting di Kebun Terantam, Regional III Riau, tanaman sawit berusia tanam 2,5 tahun sudah mampu menghasilkan 6,5–7 ton per hektare. Padahal, usia tanam tersebut masih masuk kategori Tanaman Belum Menghasilkan (TBM), dengan rata-rata nasional hanya di kisaran 3–4 ton/ha.

Panen ini dilakukan di lahan seluas 615,74 hektare yang berada di Afdeling 7 dan 8 Kebun Terantam. Lahan tersebut merupakan bagian dari siklus tanam kedua yang sebelumnya telah melalui proses replanting sebagai bagian dari strategi peningkatan produktivitas jangka panjang. Menariknya, bila tren ini berlanjut, maka ketika memasuki usia Tanaman Menghasilkan (TM1) tahun depan, kebun ini diprediksi mampu mencatat produktivitas hingga 18 ton per hektare—bahkan bisa menembus 33–35 ton/ha dalam kondisi ideal.

Direktur Utama PalmCo, Jatmiko Santosa, yang hadir langsung dalam kegiatan panen, menyampaikan apresiasi terhadap capaian luar biasa tersebut. Menurutnya, hal ini merupakan hasil dari konsistensi dan strategi penanaman yang presisi dan terukur.

“Ini bentuk komitmen kami dalam menjawab tantangan terbesar di PTPN Group, yakni menjaga kualitas investasi tanam. Kami tidak hanya ingin hasil yang baik, tapi juga maksimal dan berkelanjutan,” jelas Jatmiko.

Sejak integrasi PTPN, PalmCo telah melakukan replanting lebih dari 19.000 hektare sebagai bagian dari agenda strategis jangka panjang. Dalam lima tahun terakhir, pola tanam dan perawatan yang diterapkan menunjukkan tren peningkatan produktivitas yang signifikan.

Sebagai contoh, tanaman hasil replanting tahun 2020 kini pada usia TBM 3 mencatat produktivitas rata-rata 7,2 ton per hektare—melampaui standar nasional versi PPKS yang hanya 4 ton/ha. Begitu tanaman tersebut memasuki usia TM1, produksinya mencapai 14,5 ton/ha, jauh di atas standar PPKS sebesar 12 ton.

Baca Juga:  Mesin Canggih Tak Cukup, SDM Jadi Penentu Produktivitas Pabrik Sawit

“Keunggulan kita bukan hanya di angka, tapi di konsistensi di berbagai wilayah. Artinya, keberhasilan ini bisa direplikasi,” tambah Jatmiko.

Beberapa kebun lain juga menunjukkan capaian luar biasa: Kebun Sarang Giting (Tanam 2020) mencatat 21,5 ton/ha, Kebun Sisumut (2019) menghasilkan 25,8 ton/ha, dan Kebun Tanah Putih (2018) bahkan menembus 28,9 ton/ha—semuanya jauh di atas standar nasional untuk umur tanaman serupa.

Dalam kunjungan tersebut, Jatmiko turut memperkenalkan Agro View, teknologi pemantauan tanaman berbasis drone yang kini menjadi standar operasional di PalmCo. Dengan teknologi ini, para Planter dan GM PalmCo bisa melihat langsung kondisi tanaman secara visual, mengidentifikasi pola homogenitas, serta potensi gangguan hama secara cepat dan presisi.

“Drone ini bukan pajangan. Saya langsung operasikan di lapangan. Kita bisa lihat dan ambil keputusan berbasis data langsung dari udara,” katanya sambil menunjukkan penggunaan perangkat tersebut.

Agro View kini menjadi bagian dari sistem pengawasan internal PalmCo yang bersifat self-assessment, serta tervalidasi pihak ketiga. Sistem ini bertujuan memastikan bahwa data laporan di lapangan sesuai dengan kondisi aktual.

Menutup kunjungan tersebut, Jatmiko mengingatkan seluruh jajaran PalmCo agar tidak terlena oleh capaian tinggi. Ia menekankan pentingnya budaya kerja yang terus berinovasi dan berbenah.

“Capaian tinggi bukan alasan untuk berhenti. Terus perbaiki, terus inovasi, jangan cepat puas, jangan kasih kendor,” pungkasnya.