Bisnissawit.com – Implementasi program biodiesel B50 semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai poros energi nabati dunia. Namun, di balik meningkatnya kebutuhan crude palm oil (CPO), Indonesia dihadapkan pada tantangan serius berupa menurunnya produktivitas kebun sawit akibat penuaan tanaman.
Dr. Gusti Artama Gultom, S.Pt., M.Si., menyebut kebijakan B50 menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat bauran biofuel tertinggi. “Implementasi B50 semakin menguatkan posisi Indonesia sebagai salah satu poros energi nabati dunia. Dengan tingkat bauran yang ditargetkan 50 persen, menjadikan Indonesia sebagai negara dengan tingkat bauran biofuel tertinggi di dunia,” tulisnya.
Ia menjelaskan, peningkatan bauran biodiesel berdampak langsung pada lonjakan kebutuhan CPO, baik untuk energi, pangan, maupun oleokimia. Kondisi ini menciptakan tekanan pada ketersediaan bahan baku, terutama saat permintaan domestik dan ekspor sama-sama meningkat.
Di sisi lain, banyak tanaman sawit nasional telah memasuki usia tua, yakni 20 hingga 25 tahun. Pada fase ini, produktivitas mulai menurun dan proses panen menjadi lebih sulit.
“Akibatnya, produksi tandan buah segar (TBS) per hektare tidak lagi optimal dibandingkan saat tanaman berada pada usia prima (7–15 tahun),” jelas Gusti dalam keterangan tertulisnya, Jumat (20/2/26).
Padahal, sektor sawit memiliki peran strategis bagi perekonomian nasional. Selain sebagai komoditas ekspor andalan, industri ini juga menjadi sumber penghidupan jutaan masyarakat. “Setidaknya terdapat 16,5 juta orang mengandalkan sektor sawit sebagai sumber mata pencaharian,” ungkapnya.
Pemerintah sendiri telah menjalankan program Peremajaan Sawit Rakyat (PSR) untuk mengatasi persoalan ini. Namun, realisasinya masih menghadapi berbagai kendala, mulai dari legalitas lahan hingga kekhawatiran petani kehilangan pendapatan selama masa tanam ulang. Karena itu, percepatan PSR dinilai menjadi langkah mendesak.
Gusti menegaskan, persoalan kebun tua seharusnya menjadi prioritas kebijakan agribisnis nasional, terutama untuk memastikan pasokan CPO tetap terjaga di tengah dorongan program B50.
Menurutnya, percepatan peremajaan, penguatan pendapatan alternatif petani, penggunaan bibit unggul, hingga digitalisasi manajemen kebun menjadi kunci untuk menjaga produktivitas sawit nasional dalam jangka panjang.