Bisnissawit.com – Prospek kinerja emiten kelapa sawit dipandang masih menjanjikan sepanjang 2026. Optimisme ini ditopang oleh permintaan crude palm oil (CPO) yang diperkirakan tetap solid, terutama dari dalam negeri seiring dorongan pemerintah terhadap program biodiesel.
Sejumlah pelaku usaha sawit pun menatap 2026 dengan keyakinan positif. Salah satunya PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) yang menilai permintaan CPO tahun depan masih akan terjaga, khususnya karena implementasi mandatori biodiesel yang semakin agresif.
Di sisi lain, produksi sawit nasional diperkirakan tidak akan tumbuh signifikan. Bahkan, sebagian produsen diprediksi mengalami kontraksi produksi. Kondisi ini membuat harga CPO berpotensi bertahan di level yang kuat sepanjang 2026.
Dengan asumsi tersebut, SGRO menargetkan penjualan dapat meningkat mengikuti pergerakan harga dan permintaan. Realisasi target ini nantinya akan bergantung pada kondisi persediaan tandan buah segar (TBS) dan CPO perusahaan pada tahun berjalan.
Secara kasar, manajemen SGRO membidik pertumbuhan penjualan sekitar 3% pada 2026, ditambah potensi marjin dari stok persediaan yang dimiliki saat ini. Target tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan produksi CPO dan TBS perseroan di kisaran 3%–5% tahun depan.
Direktur Utama SGRO, Budi Setiawan Halim, menyebutkan bahwa kenaikan produksi tidak akan terlalu agresif. Pasalnya, persediaan perusahaan relatif terbatas, berkisar 10.000–20.000 ton per tahun.
Sementara itu, Investment Analyst Edvisor Profina Visindo, Indy Naila, menilai permintaan biodiesel masih akan tinggi pada 2026. Ditambah lagi, belum adanya panen lanjutan akibat curah hujan tinggi di akhir 2025 berpotensi menekan produksi CPO.
Meski demikian, Indy memperkirakan pergerakan harga CPO pada 2026 cenderung moderat. Ia menilai rencana kebijakan B50 dapat menjadi sentimen positif jangka menengah hingga panjang, di tengah fluktuasi harga CPO yang masih cukup tinggi.
Berdasarkan data Trading Economics, harga CPO saat ini berada di level MYR 4.035 per ton. Angka tersebut melemah sekitar 1,44% dalam sebulan terakhir dan terkoreksi 0,37% secara year to date (YTD).
Pengamat pasar modal sekaligus Co-Founder AP Trading Insight Singapore, Kiswoyo Adi Joe, menjelaskan bahwa pelemahan harga CPO di awal tahun merupakan pola musiman. Biasanya, koreksi terjadi akibat limpahan pasokan pasca panen raya di akhir tahun sebelumnya.
Namun, apabila kebijakan B50 benar-benar diterapkan, Kiswoyo memperkirakan harga CPO sepanjang 2026 dapat bergerak di kisaran MYR 4.000–MYR 4.200 per ton. Pertumbuhan produksi nasional sendiri diperkirakan terbatas di level 1%–2% karena masih masifnya program peremajaan kebun sawit.
Dari sisi riset, Equity Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Abdul Azis Setyo Wibowo, menilai prospek emiten CPO pada 2026 cenderung lebih konstruktif. Faktor utamanya adalah peningkatan permintaan domestik seiring penerapan penuh kebijakan B50.
Kebijakan tersebut diyakini akan meningkatkan serapan CPO di dalam negeri dan secara bertahap mengurangi ketergantungan terhadap pasar ekspor. Dengan porsi permintaan domestik yang lebih besar dan relatif stabil, volatilitas harga berpotensi menurun, sekaligus membuka peluang kenaikan average selling price (ASP) emiten sawit.
Namun demikian, Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia, Fath Aliansyah, menilai hingga saat ini belum terlihat katalis kuat yang mampu mendorong lonjakan signifikan pada saham-saham CPO. Ia menyarankan investor bersikap lebih hati-hati dan menunggu hingga risiko cuaca ekstrem mereda, sehingga belum memberikan rekomendasi khusus.
Dari sisi valuasi, Azis menilai saham-saham emiten CPO masih tergolong murah. Contohnya PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS) yang saat ini diperdagangkan dengan PER 12,26 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata PER tiga tahun terakhir di 14,53 kali.
Atas dasar tersebut, Azis merekomendasikan strategi trading buy untuk SSMS dengan target harga di kisaran Rp 1.640–Rp 1.665 per saham dan level support di Rp 1.525–Rp 1.500 per saham.
Sementara itu, Indy menyarankan investor mencermati saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) dengan target harga Rp 1.430 per saham, sembari tetap mewaspadai volatilitas harga CPO sepanjang 2026.
Adapun Kiswoyo merekomendasikan aksi beli untuk saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI), dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), dengan target harga jangka panjang masing-masing Rp 2.000, Rp 12.000, dan Rp 1.000 per saham.
Sumber: MSN