Bisnissawit.com – PT Riset Perkebunan Nusantara melalui Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) memproyeksikan peningkatan produksi minyak sawit mentah (CPO) nasional pada 2025. Proyeksi ini didasarkan pada pemodelan yang mempertimbangkan faktor iklim, umur tanaman, dan data historis produksi.
Menurut model PPKS, setelah mengalami penurunan produksi pada 2024 menjadi 48,17 juta ton dari 50,7 juta ton di tahun sebelumnya, produksi CPO diperkirakan akan naik sebesar 1,33 juta ton pada 2025, mencapai 49,5 juta ton.
“Meski pada Januari hingga April 2025 sempat terjadi penurunan produksi sebagaimana diumumkan GAPKI, namun mulai pertengahan tahun terlihat tren pemulihan. Semester pertama 2025 diprediksi relatif datar, tapi semester kedua akan menguat, sehingga total produksi tahun ini tetap meningkat,” ujar Iman Yani Harahap, Direktur PT Riset Perkebunan Nusantara dikutip dari Media Perkebunan.
Peran Iklim dan Keseimbangan Air
Produksi sawit sangat dipengaruhi oleh ketersediaan air. Cekaman kekeringan akibat El Nino 2023 menyebabkan penurunan jumlah tandan per pohon, terutama di wilayah selatan khatulistiwa. Sementara itu, kekurangan air pertengahan 2024 berdampak pada bobot tandan yang lebih ringan.
Kondisi iklim Indonesia dipengaruhi oleh dua indikator utama, yaitu Southern Oscillation Index (SOI) dan Indian Ocean Dipole (IOD). Kombinasi SOI negatif dan IOD positif yang terjadi sepanjang 2023–2024 menyebabkan musim kering yang intens dan penurunan produksi CPO. Namun, dengan berakhirnya El Nino pada 2025, diharapkan kondisi kembali normal dan mendukung produksi.
Rendahnya Climate Water Balance (CWB) di tahun 2023 turut berdampak pada efektivitas pemupukan, sehingga produksi 2024 ikut terpengaruh. Meski awal 2024 CWB masih rendah, kondisi mulai membaik di 2025 meski beberapa wilayah seperti Lampung tetap mengalami kekeringan.
“Setiap kali iklim membaik dan produksi naik, orang cenderung lupa. Tapi saat iklim memburuk dan produksi turun, baru ramai dipertanyakan. Padahal, mitigasi iklim bisa dilakukan dengan mempertahankan kandungan organik di kebun dan menerapkan best management practices,” ujar Yani.
Masalah Pemupukan dan Umur Tanaman
Faktor penting lain yang memengaruhi produktivitas adalah pemupukan. Tahun 2022 pemupukan kurang maksimal karena mahal dan langkanya pupuk. Meski harga pupuk sudah menurun di 2023–2024, efektivitasnya masih rendah akibat gangguan iklim.
Yield gap antara produksi aktual dan potensi masih tinggi: mencapai 32% di perusahaan besar dan 47% di perkebunan rakyat—sebagian besar disebabkan oleh pemupukan yang belum optimal.
Selain itu, proporsi tanaman tua dan renta terus meningkat, khususnya di lahan perkebunan rakyat. Tahun 2022 persentasenya 28%, naik menjadi 31% di 2023, dan 36% di 2024. Tanpa peremajaan yang signifikan, angka ini akan terus meningkat di tahun-tahun mendatang. Perkebunan swasta relatif lebih cepat dalam peremajaan, meskipun kecepatannya tergantung pada skala perusahaan.
Permintaan Dalam Negeri Meningkat
Konsumsi domestik minyak sawit juga menunjukkan tren naik. GAPKI mencatat, stok akhir Februari 2025 tercatat 2,2 juta ton, turun drastis dibanding 3,2 juta ton pada Februari 2024. Penurunan stok ini turut menopang harga CPO tetap tinggi di pasar. (*)