Jakarta – Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mendorong penguatan penerapan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di industri sawit sebagai bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan sektor strategis tersebut. Hal ini disampaikan Ketua Bidang SDM Sumarjono Saragih dalam kegiatan refleksi tiga tahun Jaga Sawitan (Jaringan Ketenagakerjaan Sawit Berkelanjutan).
Menurut Sumarjono, momentum kegiatan ini menjadi ajang refleksi bersama antara pekerja dan pemberi kerja dalam memperkuat praktik ketenagakerjaan yang berkelanjutan di sektor sawit. Jaga Sawitan sendiri merupakan wadah kolaborasi antara pelaku usaha dan serikat pekerja untuk membangun ekosistem ketenagakerjaan yang lebih baik di industri sawit.
“Ini momen refleksi sebenarnya bahwa Jaga Sawitan adalah wadah atau rumah bagi pekerja dan pemberi kerja. Kita sudah punya rumah bersama, Jaringan Ketenagakerjaan Sawit Berkelanjutan, yang usianya sudah tiga tahun,” ujar Sumarjono.
Dalam kegiatan tersebut, tema yang diangkat adalah K3, yang dinilai masih relevan dengan momentum Bulan K3 Nasional yang diperingati setiap Februari. Ia menilai isu K3 perlu terus didorong agar implementasinya tidak hanya sebatas formalitas, tetapi benar-benar menjadi bagian dari budaya kerja di sektor sawit.
Menurutnya, pemahaman mengenai K3 selama ini masih sering dipersepsikan sebatas penggunaan alat pelindung diri seperti helm, kacamata, sarung tangan, atau sepatu keselamatan. Padahal, penerapan K3 seharusnya menjadi bagian integral dari proses bisnis industri sawit.
“K3 itu bukan sekadar helm, kacamata, sarung tangan, dan sepatu. Bukan sekadar administratif, tapi itu bagian dari proses bisnis. Makanya kita sebut K3 adalah pilar dari sawit berkelanjutan,” katanya.
Ia menjelaskan bahwa industri sawit merupakan sektor besar dengan jumlah tenaga kerja yang sangat banyak dan tersebar di berbagai wilayah, termasuk daerah terpencil. Selain perusahaan besar, sektor ini juga melibatkan petani sebagai bagian penting dalam rantai pasok.
Dengan karakteristik tersebut, menurutnya tidak tertutup kemungkinan masih ditemukan berbagai persoalan di lapangan terkait praktik ketenagakerjaan maupun keselamatan kerja. Karena itu, GAPKI bersama jejaring serikat pekerja melalui Jaga Sawitan terus mendorong peningkatan pemahaman dan kesadaran mengenai pentingnya K3.
“Kita mendorong pemahaman, membangun kesadaran, memberi pemahaman sekaligus mengimplementasikannya,” ujarnya.
Sebagai organisasi yang menaungi perusahaan-perusahaan sawit, GAPKI juga mendorong anggotanya untuk menyebarkan praktik-praktik terbaik terkait K3 kepada seluruh rantai pasok, termasuk kepada para petani.
Menurut Sumarjono, menjangkau petani bukanlah hal yang mudah, sehingga perusahaan diharapkan dapat menjadi penghubung dalam menyebarkan praktik-praktik baik tersebut.
“Kita dorong dari GAPKI sebagai korporasi dengan anggotanya kepada rantai pasok. Karena menjangkau petani itu tidak mudah, maka perusahaan yang sudah punya praktik baik bisa membagikannya ke rantai pasok,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa industri sawit memiliki peran yang sangat besar bagi perekonomian Indonesia, sehingga keberlanjutannya harus dijaga secara bersama oleh semua pihak.
“Sawit terlalu penting bagi Indonesia, terlalu besar untuk diabaikan apalagi dibiarkan tanpa solusi di tengah banyaknya tantangan,” kata Sumarjono.
Karena itu, ia menekankan bahwa tanggung jawab menjaga keberlanjutan industri sawit tidak hanya berada di tangan perusahaan, tetapi juga pekerja dan pemerintah melalui kebijakan yang mendukung iklim usaha yang berkelanjutan.
“Oleh karena itu sawit harus dijaga secara bersama, dijaga oleh pengusaha, dijaga oleh pekerjanya, baik secara sendiri maupun bersama. Yang lebih penting dijaga oleh pemerintah melalui kebijakan yang mendukung keberlangsungan usaha,” pungkasnya.