Bisnissawit.com – Harga minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) kembali ditutup melemah pada perdagangan akhir pekan, Jumat (16/5/2025), memperpanjang tren koreksi yang telah berlangsung selama tiga pekan berturut-turut.
Dilansir dari Bloomberg, Senin (19/5/25), kontrak pengiriman Agustus di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) ditutup pada level MYR 3.812 per ton, terkoreksi 1,14% dibandingkan sesi sebelumnya. Secara mingguan, harga hanya turun tipis 0,05%, namun cukup untuk mempertegas tekanan bearish jangka pendek.
Penguatan nilai tukar ringgit Malaysia menjadi salah satu faktor utama yang menekan harga CPO. Sepanjang sebulan terakhir, ringgit mencatat apresiasi sebesar 1,36% terhadap dolar AS, dan secara year-to-date telah menguat 3,61%.
Karena CPO diperdagangkan dalam ringgit, apresiasi mata uang ini membuat harga komoditas tersebut relatif lebih mahal bagi pembeli global yang menggunakan mata uang lain.
Sinyal Teknis: Berada di Zona Bearish, Tapi Potensi Rebound Terbuka
Dari sisi teknikal dalam kerangka waktu mingguan, harga CPO masih berada di fase bearish. Indikator Relative Strength Index (RSI) tercatat di level 35,77, menunjukkan tren pelemahan.
Sementara itu, indikator Stochastic RSI berada di zona sangat jenuh jual (oversold) yakni 4,24, mengindikasikan kemungkinan adanya koreksi teknikal ke atas (technical rebound) dalam waktu dekat.
Target resistensi terdekat berada di MYR 3.912 per ton, yang juga bertepatan dengan garis Moving Average 5 (MA-5). Jika mampu menembus level ini, maka harga berpotensi melanjutkan penguatan ke MA-10 di kisaran MYR 4.147 per ton.
Sebaliknya, bila tekanan berlanjut, level support pertama ada di MYR 3.789 per ton sebagai pivot point. Jika level ini jebol, tekanan jual bisa mendorong harga CPO turun lebih dalam ke area MYR 3.755 hingga MYR 3.721 per ton. (*)