Bisnissawit.com – Penyakit busuk pangkal batang (Basal Stem Rot/BSR) akibat jamur Ganoderma masih menjadi ancaman serius bagi keberlanjutan industri kelapa sawit, khususnya di kawasan Asia Tenggara. Dalam forum 3rd ISGANO 2026, Head of Plant Pathology and Biosecurity Unit, Biology and Sustainability Research Division Malaysian Palm Oil Board (MPOB), Dr. Shamala Sundram, memaparkan hasil riset terbaru terkait strategi Integrated Ganoderma Management (IGM) untuk mengendalikan penyakit tersebut.
Dr. Shamala mengungkapkan, tingkat serangan Ganoderma di Malaysia masih tergolong tinggi. Di Sabah saja, sekitar 100 hektare perkebunan sawit dilaporkan terdampak. Secara global, penyakit ini diperkirakan menimbulkan kerugian hingga USD 60 miliar dan dapat memangkas produktivitas tanaman hingga 50–80 persen. Kondisi ini menunjukkan bahwa Ganoderma bukan hanya persoalan teknis budidaya, tetapi juga ancaman besar terhadap stabilitas ekonomi industri sawit.
Pendekatan IGM yang dikembangkan MPOB menekankan pengendalian terpadu sejak fase pembibitan hingga penanaman ulang. Salah satu metode yang digunakan adalah soil mounding, yaitu mencabut tanaman terinfeksi lalu menggantinya dengan tanaman baru melalui penimbunan tanah. Namun, langkah ini dinilai belum cukup tanpa pengendalian sumber infeksi di dalam tanah.
“Sterilisasi tanah dan pengelolaan nutrisi menjadi langkah penting. pH tanah perlu dipantau secara akurat dan berkala agar tetap seimbang,” kata Dr. Shamala.
Berdasarkan hasil penelitian MPOB, Ganoderma berkembang optimal pada pH 5, meskipun masih dapat bertahan pada kisaran pH 3 hingga 9. Dalam uji pembibitan, tanah yang diperbaiki hingga mencapai pH 6,0 dan didukung pemupukan tepat menunjukkan tingkat keparahan penyakit lebih rendah dibandingkan tanah yang terlalu asam. Temuan ini menegaskan bahwa pengelolaan pH tanah menjadi langkah pencegahan yang sangat penting.
Selain itu, insiden Ganoderma juga ditemukan lebih tinggi pada lahan gambut, khususnya tipe fibric. Karakteristik gambut jenis ini yang memiliki kelembaban tinggi dan kepadatan rendah menciptakan kondisi akar yang tidak stabil dan kekurangan oksigen, sehingga meningkatkan risiko pembusukan akar dan infeksi. Sebaliknya, gambut tipe sapric yang lebih matang dan memiliki aerasi lebih baik menunjukkan tingkat serangan yang relatif lebih rendah.
Karena itu, pengaturan tata air menjadi faktor penting dalam pengendalian penyakit di lahan gambut. Sistem drainase dan pengelolaan muka air tanah harus dilakukan secara tepat untuk menjaga keseimbangan antara kelembaban dan aerasi tanah.
Penelitian juga menunjukkan bahwa kondisi nutrisi tanah sangat dipengaruhi oleh karakteristik lokasi, tidak hanya oleh pemupukan. Bahkan, kelebihan unsur tertentu seperti kalium di tanah pesisir dan fosfor di lahan gambut justru berkaitan dengan meningkatnya tingkat keparahan penyakit. Selain itu, tanah di sekitar tanaman terinfeksi umumnya memiliki kadar seng tinggi dan kandungan besi yang rendah.
Temuan ini menegaskan pentingnya penerapan manajemen nutrisi berbasis lokasi atau site-specific nutrient management. Pemupukan berimbang serta pemanfaatan kembali biomassa menjadi bagian penting dalam strategi pengendalian jangka panjang.
Dalam riset lanjutan di Sabah, MPOB juga menemukan potensi penyebaran Ganoderma melalui serangga. Dari 543 sampel basidiokarp yang dianalisis, ditemukan lebih dari 55 spesies arthropoda, terutama kumbang. Sebanyak 17 spesies diketahui membawa spora secara eksternal, delapan spesies secara internal, dan 14 spesies terbukti membawa spora hidup berdasarkan uji laboratorium. Temuan ini menunjukkan bahwa penyebaran infeksi tidak hanya terjadi melalui akar, tetapi juga melalui serangga dan udara.
Tantangan lain dalam proses penanaman ulang adalah keberadaan sisa akar terinfeksi di dalam tanah yang masih dapat menjadi sumber penyakit. Untuk mengatasi hal tersebut, MPOB mengembangkan metode biodegradasi menggunakan agen hayati Trametes lactinea GanoBF1. Agen ini mampu mempercepat pelapukan tunggul dan biomassa terinfeksi serta membantu menciptakan komunitas mikroorganisme tanah yang lebih sehat.
Selain itu, Dr. Shamala juga menekankan pentingnya penggunaan agen hayati lain seperti Trichoderma, Streptomyces, dan mikroba pelarut seng sebagai langkah pencegahan sejak awal, bukan hanya sebagai pengobatan.
Sebagai penutup, ia mengingatkan bahwa pengendalian Ganoderma membutuhkan pendekatan menyeluruh, tidak hanya bergantung pada pupuk kimia.
“Pengelolaan Ganoderma tidak bisa parsial. Kesehatan tanah, nutrisi, sanitasi, dan biokontrol harus berjalan seiring untuk menjaga keberlanjutan industri sawit,” tegasnya.
Riset ini sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan industri sawit ke depan sangat bergantung pada pengelolaan tanah dan air yang berkelanjutan serta penerapan strategi pengendalian terpadu berbasis ekosistem.