31 Juli 2025
Share:

Bisnissawit.com – Harga saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk. (SMAR), anak usaha Grup Sinar Mas di sektor crude palm oil (CPO), mencatat lonjakan signifikan pada perdagangan sesi pertama hari Kamis (31/7/2025). Saham SMAR melesat hingga 410 poin atau sekitar 10,82 persen dan diperdagangkan di level Rp4.200 per saham.

Saham ini sempat dibuka di harga Rp4.000 dan menyentuh titik tertinggi hariannya di Rp4.600, sebelum akhirnya sempat terkoreksi ke Rp3.900. Dengan pergerakan yang sangat aktif, nilai transaksi saham SMAR mencapai Rp5,73 miliar dengan volume perdagangan sebanyak 1,337 juta lembar saham dan tercatat dalam 1.345 kali transaksi.

Kapitalisasi pasar SMAR pun ikut terdongkrak menjadi sekitar Rp12,07 triliun. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), meskipun rata-rata harga saham berada di kisaran Rp4.291, aksi beli mendominasi pasar. Investor Enthusiasm Price (IEP) tercatat di angka Rp4.000, sementara Investor Enthusiasm Volume (IEV) melonjak ke angka Rp20.500, menandakan antusiasme pasar yang tinggi terhadap saham ini.

Kenaikan ini tak lepas dari sentimen positif yang muncul menyusul diterbitkannya Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 36 Tahun 2025. Regulasi tersebut merinci daftar entitas hukum yang menjalankan usaha perkebunan kelapa sawit di kawasan hutan tanpa izin. Peraturan ini juga mengelompokkan perusahaan-perusahaan ke dalam dua kategori: yang sedang dalam proses legalisasi dan yang telah ditolak permohonan izinnya.

Kebijakan ini merupakan turunan dari Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2025 mengenai penertiban kawasan hutan. Tujuan utama dari regulasi ini adalah memastikan seluruh kegiatan perkebunan sawit berada dalam koridor hukum kehutanan yang berlaku.

Salah satu konsekuensi dari penerapan kebijakan ini adalah rencana penyitaan jutaan hektare lahan sawit ilegal. Penertiban ini diyakini akan menekan total produksi CPO nasional. Imbasnya, harga CPO naik karena pasokan menurun, suatu kondisi yang menguntungkan perusahaan-perusahaan sawit legal seperti SMAR.

Baca Juga:  Harga Referensi CPO Alami Penurunan Periode Januari 2025, Simak Sebabnya!

Dari sisi kinerja operasional, laporan keuangan SMAR pada kuartal I/2025 menunjukkan pendapatan sebesar Rp21,15 triliun, meningkat 18,31 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp17,8 triliun. Penjualan domestik menjadi kontributor terbesar dengan nilai Rp12,07 triliun, disusul ekspor sebesar Rp9,08 triliun.

Namun, kenaikan pendapatan ini diiringi dengan kenaikan beban pokok penjualan sebesar 18,07 persen dari Rp16,1 triliun menjadi Rp19,08 triliun. Walau begitu, laba kotor tetap tumbuh 20,56 persen menjadi Rp2,06 triliun dari Rp1,76 triliun pada kuartal I tahun lalu.

Menariknya, meski pendapatan tumbuh, laba bersih SMAR justru turun 24,53 persen secara tahunan, dari Rp177,8 miliar menjadi Rp134,2 miliar. Penurunan ini ikut menekan laba per saham dasar dari Rp62 menjadi Rp47 per lembar.

Dalam laporan keuangan terbarunya, SMAR mencatat total aset sebesar Rp46,26 triliun per Maret 2025, meningkat dibanding posisi akhir Desember 2024 yang tercatat Rp45,3 triliun. Total liabilitas naik menjadi Rp26,2 triliun dari Rp25,4 triliun, sedangkan ekuitas tumbuh tipis menjadi Rp20,06 triliun dari sebelumnya Rp19,8 triliun.

Kinerja saham SMAR yang menanjak ini menunjukkan bahwa investor mulai kembali melirik emiten CPO, terutama yang memiliki legalitas dan tata kelola lahan yang jelas. Di tengah pengetatan regulasi dan pembersihan lahan ilegal, posisi SMAR sebagai perusahaan sawit legal memberikan keuntungan kompetitif yang semakin terlihat di pasar. (*)