Bisnissawit.com – Rencana pemerintah menerapkan mandatori biodiesel B50 mulai tahun ini dinilai bisa menjadi kabar baik bagi saham emiten crude palm oil (CPO). Kebijakan tersebut diperkirakan bakal meningkatkan kebutuhan minyak sawit karena digunakan sebagai campuran biodiesel, sehingga permintaan CPO dalam negeri ikut terdorong.
Efek positif itu mulai terlihat dari pergerakan saham emiten sawit. Pada penutupan perdagangan Kamis (2/4/2026), saham PT Astra Agro Lestari Tbk naik 1,30% ke level Rp7.775 per saham. Sementara itu, saham PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk menguat 2,77% ke posisi Rp1.485 per saham.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah Budiman, menilai kebijakan B50 bisa menjadi pendorong utama bagi saham-saham CPO. Menurutnya, peningkatan penggunaan biodiesel otomatis akan memperbesar kebutuhan minyak sawit, sehingga prospek emiten di sektor ini masih cukup menjanjikan.
Meski begitu, analis Panin Sekuritas Reydi Octa mengingatkan bahwa potensi kenaikan saham CPO saat ini sudah tidak sebesar tahun lalu. Ia menilai harga CPO saat ini sudah cukup tinggi dan masih didukung permintaan domestik maupun global, meski kekuatannya tidak sekuat pada 2025.
Menurut Reydi, saham-saham CPO masih layak dilirik karena punya karakter defensive cyclical, atau cenderung lebih tahan saat kondisi pasar bergejolak. Namun, sektor ini dinilai sudah tidak lagi berada di fase bullish seperti tahun sebelumnya.
Ia juga menjelaskan bahwa kenaikan laba emiten CPO sepanjang 2025 yang rata-rata tumbuh sekitar 35% secara tahunan sudah banyak tercermin dalam harga saham, terutama pada perusahaan-perusahaan besar. Karena itu, ruang kenaikan harga saham ke depan diperkirakan mulai terbatas.
Untuk 2026, peluang peningkatan kinerja emiten sawit diprediksi lebih banyak datang dari naiknya volume penjualan dan stabilnya harga CPO, bukan dari lonjakan harga baru seperti sebelumnya. Artinya, saham sektor ini masih bisa tumbuh, tetapi tidak akan terlalu agresif.
Dari sisi keuntungan perusahaan, margin emiten CPO diperkirakan tetap terjaga karena harga jual masih tinggi dan pasokan masih cukup ketat di awal tahun. Namun, perusahaan juga mulai menghadapi kenaikan biaya, mulai dari ongkos tenaga kerja, biaya operasional, hingga potensi kenaikan levy ekspor.
Karena itu, kondisi saat ini dinilai lebih sebagai fase normalisasi setelah puncak kinerja yang terjadi pada 2025, bukan lagi periode ekspansi besar-besaran.
Pemerintah sendiri memastikan program B50 mulai dijalankan tahun ini. Menteri ESDM Bahlil Lahadalia mengatakan kebijakan tersebut akan meningkatkan konsumsi domestik, apalagi kapasitas kilang juga bertambah lewat proyek RDMP Balikpapan.
Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut kebijakan B50 bakal resmi berlaku mulai 1 Juli 2026. Program ini diperkirakan mampu menghemat subsidi energi hingga Rp48 triliun dan mengurangi konsumsi BBM fosil sekitar 4 juta kiloliter.
Sumber: Bloomberg Technoz