Bisnissawit.com – Saham PT Eagle High Plantations Tbk (BWPT) dinilai masih berada di level undervalued meski saat ini sudah memasuki fase bullish. Sentimen positif datang dari rencana kuasi reorganisasi yang bisa membuka jalan pembagian dividen, ditambah prospek pertumbuhan yang solid di industri kelapa sawit.
Dilansir dari Investor.id, Senin (11/8/25) UOB Kay Hian Sekuritas menyebut BWPT berpotensi tumbuh lebih cepat berkat strategi mempertahankan rata-rata usia tanaman sawit di 15–16 tahun, dengan target Oil Extraction Rate (OER) sebesar 24–25% dari posisi saat ini di kisaran 23,8–23,9%. Seluruh produk BWPT dipasarkan di dalam negeri dengan harga jual relatif lebih tinggi karena keempat pabrik CPO miliknya telah mengantongi sertifikasi RSPO.
BWPT didukung oleh Grup Rajawali melalui Rajawali Capital International dengan kepemilikan saham 37,7% dan Federal Land Development Authority (Felda) Malaysia lewat FIC Properties Sdn Bhd sebesar 37%. Saat ini perseroan tengah mengkaji kuasi reorganisasi untuk menghapus saldo defisit Rp 3,98 triliun, sehingga memberi peluang distribusi dividen di masa mendatang.
Kinerja semester I/2025 menunjukkan pertumbuhan signifikan, dengan pendapatan usaha naik 38,3% menjadi Rp 2,78 triliun dan laba bersih melesat 43,6% menjadi Rp 171,9 miliar, dibanding Rp 119,7 miliar pada periode yang sama tahun lalu.
Untuk 2025, BWPT menyiapkan belanja modal sebesar Rp 234 miliar, termasuk Rp 139,3 miliar untuk membangun pabrik kernel crushing plant berkapasitas 200 ton per tahun. Fasilitas ini diharapkan mampu mendongkrak margin keuntungan berkat OER yang lebih tinggi, yakni di kisaran 45–50%.
Dari sisi teknikal, UOB Kay Hian mencatat saham BWPT berhasil break out dengan formasi candlestick bullish disertai lonjakan volume perdagangan. Tren ini mengindikasikan pergerakan harga yang cenderung menguat. Broker tersebut merekomendasikan beli pada kisaran Rp 115–120 dengan target Rp 145, atau potensi kenaikan sekitar 25% dari harga terakhir.
Saat ini, BWPT diperdagangkan dengan Price to Earnings Ratio (PER) sebesar 11 kali, masih lebih rendah dibanding rata-rata sektor perkebunan sawit yang berada di level 14,9 kali. (*)