3 November 2025
Share:

Bisnissawit.com – PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP), emiten sawit yang menjadi salah satu portofolio investasi Lo Kheng Hong, mencatatkan kinerja gemilang sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2025. Penjualan perusahaan meningkat 33% secara tahunan (yoy) menjadi Rp14,92 triliun hingga 30 September 2025. Kenaikan ini dipicu oleh peningkatan harga jual rata-rata produk sawit serta minyak dan lemak nabati, disertai dengan bertambahnya volume penjualan.

Dalam periode tersebut, laba bruto SIMP naik 26% yoy menjadi Rp3,63 triliun, sementara laba usaha melonjak 48% yoy mencapai Rp2,75 triliun. Adapun laba bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk tumbuh signifikan sebesar 76% yoy menjadi Rp1,42 triliun. Pihak manajemen menjelaskan, laba inti atau core profit juga mencatat peningkatan 55% yoy menjadi Rp1,94 triliun.

Produksi tandan buah segar (TBS) inti tercatat stabil di angka 1,9 juta ton, namun adanya peningkatan pasokan TBS dari pihak eksternal mendorong kenaikan produksi CPO sebesar 4% yoy menjadi 513 ribu ton.

Secara pasar, saham SIMP pada sesi pertama perdagangan 3 November 2025 naik 4% ke posisi Rp650 per lembar. Volume transaksi mencapai 35,88 juta saham dengan frekuensi 3.260 kali dan nilai transaksi sebesar Rp23,66 miliar. Tercatat pula adanya net buy asing sebanyak 11,72 juta saham dari sisi volume.

Investor legendaris Lo Kheng Hong, per 30 September 2025, memiliki 5,03% saham SIMP. Dalam sebuah wawancara di kanal YouTube Today’s Message yang tayang 28 Agustus 2025, ia membeberkan alasannya membeli saham tersebut.

Menurut Lo, meskipun harga saham SIMP tergolong lambat naik, ia tertarik karena nilai aset perusahaan jauh di bawah harga pasar. Ia menjelaskan bahwa Salim Ivomas memiliki lahan perkebunan sawit dan aset lainnya seluas 288 ribu hektare. Berdasarkan perhitungannya, dengan nilai lahan US$10.000 per hektare, total aset perkebunan tersebut mencapai sekitar US$2,88 miliar atau setara Rp47 triliun.

Baca Juga:  PT Daya Guna Lestari Rangkul BPDPKS Tingkatkan SDM Sawit di Kabupaten Paser

“Nilai perusahaan itu Rp47 triliun, sementara nilai pasarnya waktu saya beli hanya Rp7 triliun. Jadi ada selisih Rp40 triliun. Saya beli Mercy dengan harga Bajaj. Harga saham boleh tidak naik, yang penting saya beli perusahaannya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, Lo menambahkan bahwa jika nilai lahan dihitung menggunakan harga pasar terkini sebesar US$15.000 per hektare, maka nilai aset bisa mencapai Rp70 triliun. “Dengan harga pasar saham hanya Rp7 triliun, berarti perusahaan ini saya beli dengan diskon 90%,” tutupnya.