Bisnissawit.com – Kinerja emiten sawit PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) kian mencuri perhatian setelah analis Verdhana Sekuritas menaikkan proyeksi laba bersih perusahaan untuk 2025. Lonjakan harga minyak sawit mentah (CPO) jadi pendorong utama, ditambah kebijakan pembagian dividen besar yang menarik minat investor.
Verdhana memprediksi harga jual rata-rata (ASP) sawit TAPG akan naik 3,5% pada 2025 dan 3% di 2026, seiring kenaikan harga CPO global. Program biodiesel B45 dan B50 yang akan dijalankan tahun depan dinilai cukup realistis, mengingat kapasitas produksi biodiesel nasional sudah mencapai 19,6 juta ton.
Kenaikan harga CPO diperkirakan mencapai 20% di 2025 dan 5% di 2026, membuat harganya melampaui minyak kedelai. Ditambah lagi, efisiensi operasional dan usia tanaman rata-rata yang masih muda (sekitar 14 tahun) membuat biaya produksi TAPG jadi yang terendah di industri. Tak heran, produksi tandan buah segar (TBS) semester I 2025 tumbuh 15%, jauh di atas pesaing yang hanya 6%.
Kinerja impresif itu mendorong laba bersih TAPG tumbuh lebih tinggi dari rata-rata industri. Sepanjang 2023 dan 2024, TAPG bahkan menyalurkan dividen dengan rasio 112% dan 98%. Untuk tahun buku 2025, yield dividen diperkirakan mencapai 9%, menjadikan TAPG sebagai salah satu penyumbang dividen terbesar di sektor sawit dengan ROE sekitar 32%.
Verdhana tetap merekomendasikan “buy” untuk saham TAPG dan menaikkan target harga dari Rp2.100 menjadi Rp2.300 per saham, dengan valuasi PER 2025 sebesar 13 kali—setara dengan pemain sawit di ASEAN. Dengan potensi kenaikan harga saham 24% ditambah yield dividen 9%, total imbal hasil (total return) yang bisa diraih investor mencapai 33%. (*)
Sumber: Inventor.id