Bisnissawit.com – Isu keberlanjutan industri kelapa sawit tidak hanya berkaitan dengan lingkungan dan keuntungan ekonomi, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan. Hal ini disampaikan oleh Ketua GAPKI Bidang SDM, Sumarjono Saragih dalam forum International Environment Forum 2026.
Dalam pemaparannya, Sumarjono menekankan bahwa sektor sawit memiliki dimensi “people” yang tidak boleh diabaikan. Ia mengingatkan para pelaku industri agar tidak hanya fokus pada perlindungan hutan, tetapi juga memastikan kesejahteraan pekerja dan petani yang menggantungkan hidup pada sektor ini.
“Sustainable Development Goals (SDGs), Indonesia Emas 2045, Asta Cita, dan ISPO pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu bagaimana manusia bisa hidup lebih baik, meskipun masih banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa industri sawit memiliki kontribusi besar terhadap ekonomi nasional dan kehidupan masyarakat. Sektor ini melibatkan lebih dari 16 juta tenaga kerja, tersebar di sekitar 170 kabupaten dan 16 ribu desa di seluruh Indonesia. Hal tersebut menunjukkan betapa luasnya dampak sawit terhadap kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat.
Namun demikian, Sumarjono juga menyoroti masih adanya berbagai persoalan ketenagakerjaan yang perlu dibenahi. Beberapa isu yang menjadi perhatian meliputi status pekerja yang belum jelas, sistem upah dan beban kerja, diskriminasi terhadap pekerja perempuan, konflik agraria, hingga penerapan standar keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
“Selama ini K3 sering dipahami hanya sebatas penggunaan alat pelindung seperti helm atau sepatu, padahal kesehatan jangka panjang pekerja juga harus menjadi perhatian,” tegasnya.
Selain itu, perlindungan jaminan sosial juga dinilai masih belum merata, khususnya bagi pekerja informal seperti petani dan buruh tani. Ia menilai bahwa jaminan sosial sangat penting untuk melindungi pekerja dari berbagai risiko, termasuk kecelakaan kerja dan jaminan hari tua.
“Kita terus mendorong agar jaminan sosial bisa menjangkau seluruh ekosistem sawit, mulai dari petani, buruh tani, hingga pelaku usaha kecil, agar keberlanjutan benar-benar terwujud,” katanya.
Dalam forum tersebut, Sumarjono juga mengajak pelaku industri untuk lebih aktif melakukan perbaikan serta mengkomunikasikan upaya positif yang telah dilakukan. Ia menekankan pentingnya peningkatan kondisi kerja, penghapusan diskriminasi, penerapan K3, serta penguatan kesetaraan gender di sektor sawit.
Ia juga menyinggung momentum peringatan Hari Kartini sebagai pengingat bahwa kesetaraan gender harus diwujudkan secara nyata dalam praktik industri, bukan sekadar simbolik.
Lebih lanjut, melalui Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia, berbagai inisiatif telah dilakukan untuk memperkuat pemahaman dan implementasi K3 secara menyeluruh. Kolaborasi dengan serikat pekerja dan pihak internasional juga terus dilakukan untuk membangun perspektif yang lebih adil terhadap industri sawit.
Di akhir pernyataannya, Sumarjono menegaskan bahwa sawit memiliki makna yang lebih luas dari sekadar komoditas.
“Sawit adalah tentang kehidupan, ekonomi, lingkungan, jutaan pekerja, dan masa depan kita. Sawit adalah kita,” pungkasnya.