23 April 2026
Share:

Bisnissawit.com – Industri kelapa sawit kembali mendapat sorotan negatif di berbagai forum global. Namun, Wakil Sekretaris Jenderal Council of Palm Oil Producing Countries (CPOPC), Musdhalifah Machmud, menepis anggapan tersebut dalam ajang International Environment Forum 2026.

Ia menegaskan bahwa sawit memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan minyak nabati dunia dengan efisiensi lahan yang tinggi. Berdasarkan data World Wide Fund for Nature, luas perkebunan sawit global hanya berkisar antara 6% hingga 11% dari total lahan minyak nabati dunia.

“Saat ini kenyataannya penggunaan lahan sawit global hanya sekitar 28,85 juta hektare, namun mampu menghasilkan 80 juta ton minyak nabati. Bahkan, kontribusinya mencapai 34% kebutuhan dunia hanya dengan sekitar 7% lahan,” ujar Musdhalifah.

Menurutnya, produktivitas sawit jauh melampaui komoditas lain. Ia membandingkan dengan kedelai yang membutuhkan lahan jauh lebih luas, yakni sekitar 100–200 juta hektare, tetapi hanya menyumbang 15–20% produksi minyak nabati dunia. Hal ini menunjukkan bahwa sawit menjadi pilihan paling efisien dalam pemanfaatan lahan.

Dalam paparannya, Musdhalifah juga menyoroti dampak jika produksi sawit digantikan oleh komoditas lain seperti kedelai atau bunga matahari. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan lahan akan meningkat drastis hingga ratusan juta hektare tambahan.

“Kalau 80 juta ton produksi itu digantikan minyak nabati lain, kebutuhan lahannya akan sangat besar,” jelasnya. Ia menambahkan, produktivitas sawit bisa mencapai 3–5 ton per hektare, jauh di atas kedelai yang hanya sekitar 0,45 ton per hektare.

Tidak hanya berperan dalam sektor pangan, sawit juga memiliki kontribusi penting di bidang energi dan industri. Sekitar setengah pemanfaatannya kini diarahkan untuk energi, termasuk biodiesel seperti B50 hingga pengembangan bioavtur.

Baca Juga:  Forum Pemuda Sawit Gelar Coaching Clinic Pengembangan Sawit Berkelanjutan

“Produk kelapa sawit tidak hanya untuk pangan. Limbahnya seperti serabut, cangkang, hingga POME bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Selain itu, sawit juga menjadi alternatif energi di tengah ketergantungan dunia pada fosil,” ungkapnya.

Sebagai organisasi yang berdiri sejak 21 November 2015, CPOPC terus memperkuat perannya melalui kolaborasi antarnegara produsen seperti Indonesia dan Malaysia, serta perluasan ke negara lain seperti Papua Nugini, Honduras, dan Republik Demokratik Kongo. Organisasi ini juga mengembangkan kerangka keberlanjutan global melalui Global Framework of Principles for Sustainable Palm Oil (GFP-SPO).

Di sisi lain, perhatian terhadap petani kecil masih menjadi tantangan utama, terutama terkait produktivitas, praktik budidaya, dan peremajaan tanaman.

Musdhalifah menekankan pentingnya kerja sama global dalam menghadapi tekanan terhadap industri sawit. “Kita tidak bisa bergerak sendiri. Kolaborasi antarnegara sangat penting agar sawit tetap menjadi bagian dari sistem pangan dan energi dunia,” tegasnya.

Dengan berbagai tantangan yang ada, CPOPC tetap optimistis bahwa kelapa sawit akan terus menjadi komoditas strategis global, selama pengelolaannya mengedepankan prinsip keberlanjutan, kolaborasi, dan berbasis data.