Bisnissawit.com – PT Sawit Sumbermas Sarana (SSMS) membagikan dividen jumbo kepada para pemegang sahamnya pada tahun 2026. Senin, 11 Mei 2026 menjadi hari terakhir atau cum dividen di pasar reguler dan negosiasi bagi investor yang ingin mendapatkan hak pembagian dividen saham emiten perkebunan kelapa sawit tersebut.
Investor yang membeli saham SSMS hingga tanggal cum dividen dan menyimpannya sampai recording date berhak memperoleh dividen sebesar Rp 83,99 per saham atau setara Rp 8.399 per lot saham. Cum dividen sendiri merupakan periode terakhir saham masih memiliki hak atas pembagian dividen.
Berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan, ex dividen pasar reguler dan negosiasi jatuh pada 12 Mei 2026, sementara recording date ditetapkan pada 13 Mei 2026. Adapun pembayaran dividen kepada pemegang saham dijadwalkan berlangsung pada 4 Juni 2026.
Secara total, SSMS akan membagikan dividen senilai Rp 800 miliar atau sekitar 68,92% dari laba bersih tahun buku 2025. Direktur Utama SSMS, Jap Hartono, mengatakan pembagian dividen dilakukan secara proporsional sesuai kepemilikan saham masing-masing investor.
“Setiap pemegang saham SSMS akan memperoleh dividen Rp 83,99 per saham,” ujar Jap Hartono dalam paparan publik perusahaan pada 30 April 2026.
Dengan harga saham SSMS yang ditutup di level Rp 1.390 per saham pada perdagangan Jumat, 8 Mei 2026, yield dividen perseroan tercatat mencapai sekitar 6,04%. Nilai tersebut dinilai cukup menarik karena hampir tiga kali lebih tinggi dibanding rata-rata bunga deposito rupiah bank umum yang berada di kisaran 2% per tahun.
Pembagian dividen tersebut juga telah memperoleh persetujuan pemegang saham dalam Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar pada akhir April 2026. Sementara itu, sisa laba bersih perusahaan sebesar Rp 360,69 miliar atau sekitar 31,08% akan dimasukkan ke dalam saldo laba ditahan sebagai cadangan perusahaan.
“Sisa laba bersih SSMS sebesar Rp 360,69 miliar atau 31,08% akan dimasukkan sebagai cadangan lainnya yang akan menambah saldo laba ditahan,” jelas Jap Hartono.
Di tengah pembagian dividen tersebut, manajemen SSMS juga optimistis terhadap prospek industri kelapa sawit pada 2026. Tingginya kebutuhan minyak nabati global diperkirakan masih akan menjadi penopang utama pertumbuhan industri sawit nasional.
Menurut Jap Hartono, permintaan minyak nabati diprediksi terus meningkat seiring pertumbuhan populasi dunia, perkembangan industri pangan, hingga meningkatnya kebutuhan energi alternatif yang lebih ramah lingkungan.
“Permintaan global terhadap minyak nabati diperkirakan terus meningkat seiring pertumbuhan populasi, perkembangan industri pangan, serta meningkatnya kebutuhan energi alternatif yang lebih berkelanjutan,” katanya.
Sumber: Kontan.co.id