20 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.com – PT Socfin Indonesia kembali menegaskan komitmennya dalam mendorong pengembangan industri kelapa sawit yang produktif dan berkelanjutan melalui penyelenggaraan SCOPEX 2026. Forum ini menjadi ruang kolaborasi antara Indonesia dan Malaysia untuk berbagi teknologi, pengetahuan, serta solusi menghadapi tantangan industri sawit global.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Wakil Gubernur Sumatera Utara, Surya, yang mewakili Gubernur Sumatera Utara. Ia memberikan apresiasi terhadap penyelenggaraan SCOPEX 2026 yang dinilai menjadi forum strategis dalam memperkuat inovasi dan keberlanjutan industri sawit nasional.

“Atas nama Pemerintah Sumut menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Socfin. Kegiatan seperti ini menjadi ruang strategis untuk menjadi ruang diskusi dalam membangun industri kelapa sawit yang semakin produktif dan berkelanjutan,” ujar Surya.

Menurutnya, industri sawit memiliki kontribusi besar terhadap perekonomian daerah, penciptaan lapangan kerja, hingga pembangunan wilayah, khususnya di Sumatera Utara. Karena itu, industri sawit harus terus didorong agar mampu tumbuh secara sehat, inovatif, dan mampu menjawab berbagai tantangan global.

“Sumut memiliki posisi yang sangat penting dalam mengembangkan industri sawit nasional. Harus memastikan bahwa industri ini tumbuh sehat, inovatif, dan menjawab tantangan global terkait hilirisasi, lingkungan, dan sosial,” katanya.

Surya menambahkan, penguatan kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha menjadi kunci dalam meningkatkan produktivitas serta daya saing sawit Indonesia di pasar internasional. Menurut dia, pengembangan industri harus dilakukan melalui penguatan kemitraan petani, penerapan teknologi tepat guna, hilirisasi, serta tetap menjaga kualitas lingkungan.

“Dibutuhkan sinergi antara pemerintah dan dunia usaha. Kolaborasi harus diwujudkan melalui penguatan kemitraan oleh petani, penerapan teknologi tepat guna, penerapan hilirisasi industri, meningkatkan kualitas industri perkebunan dan menjaga kualitas lingkungan,” jelas Surya.

Baca Juga:  Palembang dan Jejak 115 Tahun Sawit Indonesia yang Nyaris Terlupakan

Sementara itu, Direktur PT Socfin Indonesia, Harold Williams, mengatakan SCOPEX 2026 bukan sekadar forum diskusi, melainkan juga wadah edukasi yang diharapkan memberikan dampak jangka panjang bagi perkembangan industri sawit nasional.

“Tujuan utama membangun kolaborasi Indonesia dan Malaysia untuk sawit lebih baik dan berkelanjutan. Kita memahami bahwa industri kelapa sawit masih menghadapi berbagai tantangan. Oleh karena itu melalui forum ini kita ingin berbagi pengetahuan dan pengalaman memposisikan berbagai permasalahan, mencari solusi yang efektif untuk diterapkan di lapangan,” ujar Harold.

Harold juga menegaskan komitmen perusahaan dalam memberdayakan masyarakat dan petani sawit di sekitar wilayah operasional perusahaan. Menurutnya, kegiatan seperti SCOPEX dapat meningkatkan kapasitas dan daya saing petani sawit nasional.

“Sebagai bentuk komitmen terhadap pemberdayaan masyarakat, Socfindo memfasilitasi petani sekitar operasional perusahaan melalui SCOPEX untuk meningkatkan wawasan dan kapasitas petani kelapa sawit agar semakin maju, mandiri dan berdaya saing,” jelas Harold.

Dalam kesempatan yang sama, Head of SSPL Socfindo, Indra Syahputra, memaparkan perjalanan panjang perusahaan dalam industri sawit nasional melalui presentasi bertajuk “100+ Tahun Socfindo: Mengukir Prestasi, Mendorong Teknologi, dan Menjaga Bumi”.

Menurut Indra, keberhasilan Socfindo bertahan lebih dari satu abad tidak lepas dari penerapan prinsip keberlanjutan secara konsisten.

“Saat ini Socfindo sudah 115 tahun karena menerapkan sistem keberlanjutan: people, profit, planet,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa produktivitas sawit nasional sebenarnya masih dapat meningkat signifikan apabila seluruh pelaku industri menerapkan praktik budidaya terbaik dan menggunakan benih unggul berkualitas.

“Secara genetik produktivitas sawit bisa mencapai 50 ton. Berdasarkan diskusi kami para orang kebun, pekerjaan orang kebun sekarang hanya dua, yaitu yield making dan yield taking,” kata Indra.

Baca Juga:  Harga TBS Kemitraan Provinsi Riau Periode 27 November - 3 Desember 2024

Indra mengungkapkan bahwa produktivitas CPO Socfindo telah mencapai 5,5 ton per hektare, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional yang masih berada di kisaran 3,6 ton per hektare, sementara produktivitas petani sekitar 2,5 ton per hektare. Karena itu, ia mendorong penggunaan benih unggul dan penerapan Good Agricultural Practices (GAP).

Ia juga menekankan pentingnya transformasi industri melalui teknologi, baik mekanisasi maupun digitalisasi.

“Socfindo berkomitmen untuk menerapkan dan mengadopsi teknologi baru: mekanisasi, digitalisasi, dan sustainability,” pungkas Indra.

Menurut Indra, jika produktivitas nasional mampu meningkat menjadi rata-rata 5 ton CPO per hektare dari total sekitar 16 juta hektare kebun sawit Indonesia, maka produksi nasional dapat melonjak tanpa perlu membuka lahan baru.

“Seandainya kita semua menerapkan budidaya yang baik, bisa 5 ton saja produksi Indonesia dikali 16 juta hektar menjadi 80 juta ton per tahun dan bisa menghasilkan pertumbuhan 450 triliun tanpa menambah luasan lahan. Kunci sukses adalah gunakan bibit yang benar, tanam di tempat yang benar, dan rawat dengan benar,” ujar Indra.

Selain menghadirkan konferensi yang melibatkan pakar dan pelaku industri dari Indonesia dan Malaysia, SCOPEX 2026 juga diramaikan dengan pameran industri sawit, teknologi inovatif, serta kunjungan lapangan ke kebun Bangun Bandar milik Socfindo untuk menunjukkan praktik GAP terbaik di lapangan.