22 Desember 2025
Share:

Bisnissawit.com — Mahasiswa Program Doktor Sains Agribisnis Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor (IPB), Gusti Artama Gultom, resmi memaparkan hasil disertasinya dalam Sidang Promosi Doktor yang digelar di Kampus IPB Dramaga, Senin (22/12/2025). Disertasi tersebut mengkaji dampak kebijakan pengembangan biodiesel terhadap agribisnis minyak kelapa sawit Indonesia.

Dalam pemaparannya, Gusti menegaskan bahwa kebijakan biodiesel berbasis minyak sawit tidak hanya berkaitan dengan sektor energi, tetapi memiliki implikasi luas terhadap stabilitas pasar, harga, dan kesejahteraan petani sawit.

“Pengembangan biodiesel tidak semata-mata untuk meningkatkan nilai tambah minyak sawit, tetapi lahir dari pertimbangan strategis nasional, terutama ketahanan dan kedaulatan energi Indonesia,” ujar Gusti, Senin (22/12/25)

Gusti menjelaskan, sejak mulai dikembangkan pada 2006, biodiesel diposisikan sebagai instrumen untuk menyerap kelebihan pasokan crude palm oil (CPO) di dalam negeri sekaligus meredam tekanan harga di pasar internasional. Menurutnya, penyerapan CPO oleh sektor energi menciptakan permintaan domestik yang lebih stabil dan elastis.

“Penyerapan CPO oleh sektor energi membantu menjaga keseimbangan harga, melindungi pendapatan petani, dan meredam volatilitas yang berdampak sosial,” jelasnya.

Berdasarkan hasil analisis ekonometrika menggunakan metode Vector Error Correction Model (VECM) dan Autoregressive Distributed Lag (ARDL), Gusti menemukan bahwa peningkatan produksi biodiesel Indonesia berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga CPO internasional, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Indonesia sebagai produsen, eksportir, sekaligus konsumen minyak sawit terbesar dunia memiliki daya transmisi yang kuat dalam membentuk harga CPO global melalui kebijakan biodiesel,” ungkapnya.

Sementara di pasar domestik, dampak biodiesel terhadap harga CPO bersifat positif dalam jangka pendek, namun cenderung terkendali dalam jangka panjang berkat kebijakan bea keluar yang berfungsi sebagai instrumen stabilisasi pasar. Kebijakan ini dinilai mampu menjaga ketersediaan pasokan dalam negeri ketika harga global mengalami kenaikan.

Baca Juga:  Begawan Perkebunan Indonesia Soedjai Kartasasmita Tutup Usia

Tak hanya itu, Gusti juga menyoroti dampak langsung kebijakan biodiesel terhadap petani sawit. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa peningkatan produksi biodiesel berpengaruh positif dan signifikan terhadap harga tandan buah segar (TBS), baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

“Konsistensi kebijakan biodiesel menciptakan permintaan yang lebih stabil dan berkelanjutan, sehingga memberikan kepastian pasar dan menopang peningkatan kesejahteraan petani sawit,” kata Gusti.

Namun demikian, Gusti mengingatkan adanya tantangan serius ke depan. Berdasarkan simulasi sistem dinamis, produksi CPO Indonesia diproyeksikan mengalami tren melambat hingga 2045, sementara kebutuhan domestik, khususnya untuk minyak goreng dan biodiesel terus meningkat.

“Jika peningkatan blending rate biodiesel tidak diiringi dengan peningkatan produktivitas CPO, Indonesia berpotensi menghadapi tekanan pasokan, kenaikan harga domestik, serta risiko terganggunya ketahanan pangan dan energi,” tegasnya.

Karena itu, Gusti merekomendasikan agar kebijakan biodiesel diintegrasikan secara utuh dalam kerangka kebijakan nasional sawit, melalui kombinasi strategi hulu dan hilir, seperti peremajaan sawit rakyat, peningkatan rendemen pabrik, serta pengelolaan ekspor dan Domestic Market Obligation (DMO).

“Kebijakan biodiesel tidak bisa diposisikan sebagai kebijakan sektoral semata, tetapi harus menjadi bagian dari kebijakan minyak sawit nasional yang terintegrasi dan berkelanjutan,” pungkasnya.