Bisnissawit.com — Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian kembali menyelenggarakan Sidang Pelepasan Varietas Periode Kedua Tahun 2025 di Bogor, Selasa (28/10/2025). Agenda ini menjadi momentum penting dalam mendorong pengembangan bibit unggul berbagai komoditas perkebunan di Indonesia.
Direktur Perbenihan Perkebunan, Ebi Rulianti, S.P., M.Sc., mengungkapkan bahwa dalam sidang kali ini terdapat empat pemohon yang mengajukan usulan untuk dibahas. “Periode ini ada empat pemohon yang kita bahas. Pertama, tebu dengan tujuh klon dari P3GI dan dua klon dari Gunung Madu Plantation. Lalu ada sawit dari Bina Sawit Makmur, serta satu usulan dari Puslit Karet,” jelasnya.
Menurut Ebi, pelaksanaan sidang tahun ini berlangsung lebih efisien berkat adanya pra-sidang yang digelar satu bulan sebelumnya. Mekanisme tersebut memberi kesempatan bagi para pemohon untuk menyempurnakan dokumen dan data pendukung sebelum pembahasan utama dilakukan. “Dengan adanya pra-sidang, sidang utama jadi lebih fokus dan ringkas karena semua berkas sudah siap,” tambahnya.
Ia juga menekankan bahwa pelepasan varietas bukan sekadar memperbanyak bibit unggul, melainkan menjaga keragaman genetik di lapangan. Langkah ini penting untuk mencegah risiko penurunan daya tahan tanaman akibat penggunaan satu jenis klon secara terus-menerus. “Kalau mono-varietas dipakai terlalu lama, bisa memicu ledakan hama dan penyakit,” ujarnya.
Melalui sidang ini, pemerintah berharap varietas-varietas yang dilepas dapat segera disosialisasikan dan dimanfaatkan oleh petani. Dengan semakin banyak pilihan varietas unggul, petani bisa menyesuaikan dengan kondisi lahan dan kebutuhan masing-masing, sehingga produktivitas meningkat dan ketahanan sektor perkebunan semakin kuat.
“Targetnya, semua varietas yang dilepas bisa sampai ke tangan petani dan benar-benar digunakan di lapangan. Dengan begitu, keragaman genetik meningkat dan daya tahan tanaman pun makin baik,” tutup Ebi.