Bisnissawit.com — Di tengah tekanan efisiensi biaya dan tuntutan praktik agribisnis berkelanjutan, sistem integrasi sawit dan sapi (SISKA) kian menunjukkan relevansinya sebagai model agroindustri terpadu.
Program ini tidak hanya menjanjikan sinergi antara sektor perkebunan dan peternakan, tetapi juga menghadirkan solusi konkret dalam memaksimalkan pemanfaatan lahan dan limbah kebun.
Salah satu penerapan SISKA yang mendapat sorotan datang dari PT Simbiosis Karya Agroindustri (SISKA Ranch), unit usaha dari BKB Group yang telah mengembangkan sistem ini secara konsisten sejak 2014 di Kalimantan Selatan.
Model tersebut berhasil mengintegrasikan aktivitas budidaya kelapa sawit dengan penggemukan sapi, serta pemanfaatan limbah kebun sebagai sumber pakan ternak.
Guru Besar Fakultas Peternakan IPB University, Prof. Nahrowi, mengapresiasi keberhasilan implementasi SISKA tersebut. Menurutnya, sistem ini menjadi contoh konkrit dari praktik pertanian terintegrasi yang mendukung efisiensi produksi dan keberlanjutan lingkungan.
“Program SISKA diterapkan dengan baik, memanfaatkan limbah pelepah, daun, dan rumput di kebun sawit sebagai sumber pakan utama. Ini adalah bentuk simbiosis mutualisme yang sangat relevan bagi sektor industri,” ujar Prof. Nahrowi.
Lebih dari enam tahun berjalan, model SISKA terbukti mampu menekan biaya operasional, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, serta meningkatkan produktivitas kebun secara keseluruhan. Tak heran, saat ini telah terbentuk 58 klaster SISKA yang tersebar di Kalimantan Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, dan Riau.
IPB University sendiri tengah merancang miniatur sistem SISKA di Jonggol Innovation Valley sebagai pusat pembelajaran, riset, dan replikasi model. Upaya ini dinilai strategis untuk memperluas adopsi SISKA ke berbagai wilayah perkebunan Indonesia.
Direktur PT SISKA, Dr. Wahyu Darsono, menjelaskan bahwa SISKA bukan sekadar integrasi fisik antara sawit dan sapi, tetapi sebuah pendekatan biosistem terpadu.
“Dari satu lahan, kami bisa optimalkan hasil sawit dan manfaatkan biomassa yang tersedia sebagai pakan ternak. Ini pendekatan bisnis yang efisien dan berkelanjutan,” ungkap Wahyu.
Dengan tekanan ekonomi global dan kebutuhan industri untuk bertransformasi, SISKA tampil sebagai model relevan yang tidak hanya mendukung profitabilitas, tapi juga membawa nilai tambah ekologis dan sosial. Dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor dibutuhkan agar sistem seperti ini dapat dikembangkan lebih luas dalam skala nasional. (*)