15 November 2025
Share:

Bisnissawit.com — Industri sawit kini berada di fase krusial menghadapi tekanan regulasi dan citra negatif yang terus berkembang di tingkat global. Pesan itu disampaikan Adjunct Professor John Cabot University, Roma, Pietro Paganini, pada hari kedua IPOC 2025. Dalam presentasinya berjudul “EUDR and Beyond: Navigating New Frontiers for Palm Oil”, ia menegaskan bahwa isu terbesar yang dihadapi sawit saat ini bukan soal kemampuan produksi, melainkan tantangan membangun persepsi dan kepercayaan publik.

“Kelapa sawit adalah komoditas paling produktif dan paling inklusif, tetapi ironisnya justru memiliki reputasi paling buruk,” ujar Paganini di BICC The Westin Nusa Dua, Bali, Jumat (14/11/2025). Ia menilai jarak antara fakta dan persepsi telah membuat sawit kerap dijadikan kambing hitam, padahal komoditas ini berkontribusi pada penurunan angka kemiskinan, pemenuhan kebutuhan gizi global, serta efisiensi penggunaan lahan.

Membahas implementasi EU Deforestation Regulation (EUDR), Paganini menyebut regulasi tersebut sebagai permulaan dari perubahan besar dalam standar pasar global. Menurutnya, EUDR seharusnya tidak dilihat hanya sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang bagi industri untuk memenangkan kompetisi baru dalam membangun nilai tambah dan memperkuat kepercayaan dunia.

“Nol deforestasi dan ketertelusuran penuh akan menjadi standar baru global. EUDR memicu kompetisi internasional untuk menghadirkan kepercayaan dan inovasi,” tegasnya. Ia mengapresiasi adanya masa uji coba selama 24 bulan, masa transisi setahun untuk UMKM dan petani kecil, serta pembentukan komunitas praktik dan komite pengarah yang dianggap sebagai kompromi realistis agar regulasi ini lebih inklusif.

Paganini juga menekankan bahwa teknologi bukan beban biaya, melainkan investasi masa depan. “Teknologi adalah garis depan baru bagi daya saing dan kepercayaan,” ujarnya. Ia menyebutkan penggunaan drone dan satelit untuk pemantauan, blockchain untuk transparansi rantai pasok, serta kecerdasan buatan (AI) untuk efisiensi sebagai kunci dalam menghadapi regulasi global.

Baca Juga:  PTPN IV Regional II Perbaiki Akses Jalan Kebun Bah Birung Ulu

Selain itu, peningkatan produktivitas melalui replanting, inovasi budidaya, dan digitalisasi lahan disebut sebagai pilar utama keberlanjutan. “Semakin tinggi hasil panen, semakin rendah tekanan terhadap lahan. Itulah inti keberlanjutan,” tambahnya. Menurut Paganini, industri sawit harus mengalihkan fokus dari perluasan lahan ke pertumbuhan berbasis inovasi pintar.

Ia juga menyoroti meningkatnya kampanye anti-SAFA (lemak jenuh) dan tren klaim “palm oil-free” yang dinilainya menyesatkan publik dan tidak menyentuh akar persoalan nutrisi. “Klaim ‘tanpa sawit’ hanyalah trik pemasaran. Ia menyerang sebuah bahan, bukan masalah utamanya,” ungkapnya.

Menutup paparannya, Paganini mengajak negara produsen dan pelaku industri untuk tidak lagi bersikap defensif. Sawit, katanya, harus diposisikan sebagai motor pembangunan, kesejahteraan, dan inovasi global. Ia menegaskan bahwa saatnya industri mengambil peran kepemimpinan dalam diplomasi keberlanjutan dan membangun narasi baru yang lebih berimbang tentang peran strategis kelapa sawit bagi dunia.