Bisnissawit.com – Peningkatan produktivitas kelapa sawit nasional tidak lagi dapat mengandalkan ekspansi lahan semata. Hal ini disampaikan oleh Marlon Sitanggang, S.P., M.Si., Agronomy Division Head PT Union Sampoerna Triputra Persada sekaligus praktisi P3PI, dalam ajang Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 di Pangkalan Bun. Ia menekankan bahwa kunci utama terletak pada optimalisasi produksi melalui intensifikasi dan pelaksanaan replanting yang tepat.
Menurut Marlon, produktivitas sawit Indonesia saat ini masih berada di kisaran rata-rata 18 ton tandan buah segar (TBS) per hektare per tahun. Padahal, dengan pengelolaan yang baik, potensi produksi bisa meningkat hingga 30 ton bahkan mencapai 32–40 ton per hektare.
Ia menjelaskan bahwa kesenjangan produktivitas (yield gap) masih menjadi tantangan besar. Dengan luas perkebunan sekitar 13,8 juta hektare, produksi nasional saat ini mencapai sekitar 296 juta ton TBS. Namun, jika potensi tersebut dimaksimalkan, produksi dapat meningkat hingga lebih dari 400 juta ton atau naik sekitar 40 persen.
Rendahnya produktivitas ini, lanjutnya, disebabkan oleh berbagai faktor seperti penggunaan benih yang tidak berkualitas, kesalahan dalam pengaturan jarak tanam, hingga teknik budidaya yang belum optimal. Kesalahan-kesalahan tersebut umumnya hanya dapat diperbaiki melalui proses replanting.
Selain faktor teknis, kondisi lingkungan seperti kekeringan juga turut memengaruhi hasil produksi, mengingat sebagian besar perkebunan sawit masih bergantung pada curah hujan alami.
Dalam pemaparannya, Marlon juga menekankan pentingnya menjalankan tahapan replanting secara disiplin, mulai dari penentuan blok, penumbangan tanaman lama, penggalian bonggol, hingga proses penanaman kembali. Ia mengingatkan agar proses pencacahan batang (chipping) dilakukan dengan hati-hati agar tidak memperparah penyebaran penyakit Ganoderma.
Lubang tanam menjadi aspek krusial yang sering diabaikan. Ia menyarankan penggunaan ukuran standar serta verifikasi sebelum penanaman untuk menghindari kesalahan yang berdampak pada pertumbuhan tanaman.
Dalam tahap penanaman, disarankan dilakukan saat musim hujan dengan penambahan pupuk dan agen hayati seperti Trichoderma. Selain itu, penggunaan pupuk NPK dan penanaman tanaman penutup tanah seperti Mucuna sangat penting untuk menjaga kesuburan tanah serta mengurangi risiko erosi.
Marlon menegaskan bahwa minimal 80 persen area harus tertutup tanaman penutup agar hasil optimal dapat dicapai. Ia juga menyarankan pola tanam zig-zag atau selang-seling antar blok untuk menjaga keberlangsungan populasi serangga penyerbuk alami, seperti Elaeidobius kamerunicus.
Pendekatan preventif terhadap penyakit Ganoderma menjadi fokus utama dalam replanting. Ia menekankan pentingnya sensus penyakit secara berkala sebelum replanting untuk mengetahui tingkat risiko di lapangan.
Berdasarkan pengalamannya, penerapan metode replanting yang sistematis sejak 2019 menunjukkan hasil yang signifikan dalam menekan serangan Ganoderma, bahkan hingga nol kasus pada area tertentu setelah penanaman ulang.
Selain itu, dilakukan pula analisis risiko melalui penggalian lubang uji untuk mendeteksi keberadaan patogen di dalam tanah. Untuk pengendalian, timnya telah mengembangkan berbagai isolat Trichoderma lokal yang efektif melawan Ganoderma.
Ia juga mengungkapkan adanya tantangan lain seperti kekurangan unsur hara, terutama tembaga (Cu) dan nitrogen. Hal ini terjadi karena selama bertahun-tahun tanaman menyerap unsur tersebut tanpa pengembalian yang cukup ke dalam tanah.
Untuk mengatasi kekurangan nitrogen, disarankan pemberian pupuk urea setelah satu bulan penanaman, karena adanya kompetisi antara tanaman dan mikroorganisme dalam memperebutkan unsur tersebut selama proses dekomposisi bahan organik.
Mengenai ablasi, Marlon menegaskan bahwa pembuangan bunga tidak berdasarkan umur tanaman, melainkan ketika sekitar 60 persen populasi telah menghasilkan bunga.
Hasil penerapan replanting yang terencana dan sistematis menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan, baik dari segi berat janjang, jumlah tandan, maupun produktivitas per hektare.
Dengan penerapan praktik terbaik tersebut, potensi Indonesia untuk menjadi produsen kelapa sawit dengan produktivitas tertinggi di dunia bukan lagi sekadar wacana, melainkan target yang realistis untuk dicapai.