19 Februari 2026
Share:

Bisnissawit.com – Persetujuan pemerintah Amerika Serikat untuk memberlakukan tarif bea masuk 0 persen terhadap ekspor minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) dan produk turunannya dari Indonesia dinilai menjadi momentum penting bagi industri sawit nasional. Kebijakan yang berlaku melalui skema Agreement on Reciprocal Tariff (ART) ini disebut dapat menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor sekaligus sentimen positif bagi saham perusahaan perkebunan sawit di pasar modal.

Selama ini, ekspor sawit Indonesia ke Amerika Serikat diperkirakan mencapai sekitar 6 juta ton per tahun. Namun, hanya sekitar sepertiga yang dikirim langsung, sedangkan sebagian besar lainnya terlebih dahulu masuk ke negara-negara Eropa seperti Prancis, Jerman, Spanyol, Belanda, dan Italia sebelum akhirnya dikirim kembali ke AS sebagai produk re-ekspor. Dengan tarif nol persen, peluang ekspor langsung dari Indonesia ke AS diperkirakan akan meningkat signifikan.

Direktur Palm Oil Agribusiness Strategic Policy Institute, Tungkot Sipayung, menyebut kebijakan ini sebagai indikasi perubahan penting dalam peta perdagangan sawit global. Ia menilai langkah tersebut dapat memperkuat posisi Indonesia sekaligus memperbaiki efisiensi distribusi.

“Tarif nol persen akan mendorong ekspor langsung, membuat jalur distribusi lebih efisien, dan meningkatkan posisi tawar Indonesia dalam negosiasi dagang global,” ujar Tungkot dalam keterangannya, Kamis (19/2/2026).

Terkait regulasi European Union Deforestation Regulation (EUDR) yang selama ini dianggap menjadi hambatan ekspor sawit, Tungkot menilai kekhawatiran tersebut tidak sepenuhnya tepat. Ia menjelaskan bahwa persyaratan teknis seperti sistem ketertelusuran hingga koordinat kebun relatif sulit diterapkan secara luas oleh negara produsen, sehingga implementasinya kemungkinan tidak berjalan maksimal.

Selain itu, industri sawit Indonesia dinilai tetap memiliki daya tahan kuat karena didukung pasar domestik melalui program biodiesel B40 serta diversifikasi tujuan ekspor ke berbagai negara.

Baca Juga:  2024, GAPKI Fokus Tingkatkan K3 SDM Perkebunan Sawit

Prospek Saham Emiten Sawit

Dari sisi pasar modal, analis Mitra Andalan Sekuritas menilai kebijakan tarif nol persen ini bukan sekadar efek jangka pendek, melainkan berpotensi mengubah struktur perdagangan sawit global. Jika ekspor langsung ke AS meningkat, peran Eropa sebagai perantara perdagangan bisa berkurang, sementara posisi Indonesia dalam perdagangan global semakin kuat.

Kondisi tersebut dinilai dapat memberikan dampak positif bagi perusahaan sawit yang memiliki porsi ekspor besar. Selain itu, Indonesia juga memiliki alternatif pasar ekspor lain yang kuat seperti India, China, dan negara-negara di Afrika, sehingga risiko ketergantungan pada satu kawasan bisa ditekan.

Kebijakan ini juga diperkirakan dapat memengaruhi sikap Uni Eropa, khususnya terkait regulasi keberlanjutan seperti aturan anti-deforestasi. Jika regulasi tersebut terlalu ketat, negara-negara Eropa berpotensi kehilangan pasokan karena eksportir dapat beralih ke pasar lain yang lebih terbuka.

Sementara itu, perkembangan negosiasi Indonesia–EU Comprehensive Economic Partnership Agreement (IEU-CEPA) menunjukkan tanda-tanda bahwa Uni Eropa mulai membuka peluang akses yang lebih luas bagi produk Indonesia, meskipun pembahasannya masih berlangsung.

Meski demikian, pelaku pasar tetap mencermati berbagai risiko, terutama terkait dinamika politik perdagangan global dan pelaksanaan teknis kebijakan tersebut. Secara umum, tarif nol persen dari Amerika Serikat dinilai sebagai langkah strategis yang dapat memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok sawit dunia sekaligus meningkatkan prospek industri dan saham sektor sawit ke depan.

Sumber: topbussiness.id