Bisnissawit.com – Upaya memperkuat keberlanjutan industri kelapa sawit nasional terus dilakukan melalui inovasi biologis. Salah satunya dengan introduksi tiga spesies serangga penyerbuk baru asal Tanzania, yakni Elaeidobius subvittatus, Elaeidobius kamerunicus, dan Elaeidobius plagiatus. Ketiga serangga ini diproyeksikan sudah dapat dilepas ke lapangan pada periode Februari–Maret 2026.
Peneliti Pusat Penelitian Kelapa Sawit (PPKS) dari PT Riset Perkebunan Nusantara, Agus E. Prasetyo, menjelaskan bahwa ketiga spesies tersebut dipilih karena memiliki konsistensi tinggi dalam mengunjungi bunga jantan dan betina kelapa sawit, sehingga berpotensi efektif meningkatkan proses penyerbukan.
Serangga penyerbuk tersebut tiba di insektarium PPKS Marihat pada 4 April 2025 dalam bentuk larva dan pupa, masing-masing sekitar 2.000 individu. Proses pemasukan dilakukan dengan pengawasan ketat dari Badan Karantina Indonesia. Dari hasil pemeliharaan awal, diperoleh kumbang indukan sebanyak 1.704 ekor E. subvittatus, 1.494 ekor E. kamerunicus, dan 1.359 ekor E. plagiatus.
Selanjutnya, tim peneliti melakukan serangkaian pengujian, termasuk analisis morfologis, molekuler, dan metagenomik. Hasilnya memastikan bahwa ketiga spesies tersebut sesuai identitasnya dan tidak terdeteksi membawa organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPTK) kategori A1. Beberapa patogen berbahaya seperti Fusarium oxysporum fsp. elaeideis, Radinaphelenchus cocophilus, dan Phytoplasma palmae juga dinyatakan tidak ditemukan.
Uji kesesuaian inang terhadap 46 jenis tanaman menunjukkan bahwa aktivitas makan ketiga spesies ini hanya terjadi pada bunga jantan kelapa sawit. Selain itu, pengujian kompetisi dengan serangga lokal tidak menemukan adanya persaingan intraspesifik. Dari uji olfaktometer, ketiga kumbang terbukti aktif pada siang hari dengan waktu respons cepat, di mana kumbang mampu mencapai bunga hanya dalam waktu sekitar satu menit.
Proses monitoring dan evaluasi dilakukan oleh Direktorat Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Kementerian Lingkungan Hidup pada 10 Juli 2025. Sementara itu, pengujian karantina lanjutan digelar pada 12–13 Agustus 2025 dengan melibatkan Ditjen Perkebunan, Badan Karantina Indonesia, Komisi Agens Hayati, organisasi profesi, asosiasi industri, serta tim peneliti. Diskusi kelompok terarah (FGD) bersama 22 perusahaan kontributor juga dilaksanakan pada Juli 2025, disertai pelatihan bertahap di insektarium PPKS.
Meski perkembangan awal populasi tergolong lambat, hasil signifikan mulai terlihat. Dalam tiga bulan, populasi meningkat hingga 15 kali lipat menjadi sekitar 85 ribu individu. Pada 18 Oktober 2025, jumlah kumbang tercatat mencapai 128.059 individu, terdiri atas 73.163 E. kamerunicus, 45.507 E. subvittatus, dan 9.389 E. plagiatus.
Pada November 2025, seluruh tahapan pengujian karantina ditargetkan rampung dan dilanjutkan dengan pengajuan izin pelepasan kepada Komisi Agens Hayati. Proses perbanyakan massal terus dilakukan hingga mencapai sekitar 300 ribu kumbang. Selanjutnya, pada Desember 2025 hingga Januari 2026, Komisi Agens Hayati melakukan sidang dan peninjauan guna memberikan rekomendasi pelepasan.
Dengan dukungan Kementerian Pertanian Republik Indonesia, izin pelepasan serangga diharapkan terbit pada Februari–Maret 2026. Tahap awal pelepasan akan disertai uji multilokasi terbatas, sementara populasi hasil perbanyakan massal diproyeksikan mencapai sekitar 800 ribu kumbang sebagai penopang peningkatan produktivitas sawit nasional.