28 April 2026
Share:

Bisnissawit.com — Kegiatan Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 untuk kedua kalinya resmi diselenggarakan di Pangkalan Bun, Kabupaten Kotawaringin Barat, Kalimantan Tengah, pada 28–30 April 2026. Acara ini menjadi wadah penting dalam menjawab tantangan peningkatan produktivitas kelapa sawit di tengah meningkatnya kebutuhan minyak sawit nasional.

Kelapa sawit sebagai komoditas andalan penyumbang devisa negara kini menghadapi tantangan serius, terutama dalam hal produktivitas. Di sisi lain, konsumsi minyak sawit dalam negeri terus meningkat, terlebih dengan penerapan program B50 yang mulai berjalan. Bahkan, kebutuhan nasional diperkirakan dapat mencapai 41 juta ton pada tahun 2045.

Untuk menjaga keseimbangan antara kebutuhan domestik dan ekspor, peningkatan produktivitas menjadi kunci utama. Potensi produksi sebenarnya dinilai mampu mencapai 5–6 ton Crude Palm Oil (CPO) per hektar per tahun, sehingga perlu upaya maksimal untuk mencapainya.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Media Perkebunan dengan dukungan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) dan GAPKI Kalimantan Tengah. Selain seminar teknis, acara juga dilengkapi dengan pameran serta kunjungan lapangan (field trip).

Bupati Kotawaringin Barat, Hj. Nurhidayah, secara langsung membuka acara dan menyampaikan dukungannya terhadap kegiatan tersebut. Ia menilai TKS menjadi ruang penting bagi petani untuk mendapatkan informasi serta menyampaikan aspirasi.

“Kami menyambut baik kegiatan ini karena memberikan banyak informasi dan membuka ruang diskusi, terutama bagi petani sawit di daerah,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa sektor kelapa sawit memiliki peran besar dalam perekonomian daerah, di mana sekitar 60 persen masyarakat bergantung pada komoditas ini. Pemerintah daerah sendiri terus mendorong pengembangan sektor sawit melalui penyediaan bibit, dengan alokasi sekitar 25.000 bibit setiap tahun.

Selain itu, pemerintah juga menyoroti pentingnya isu sosial dalam industri sawit, seperti kesetaraan gender, perlindungan pekerja perempuan, pencegahan pekerja anak, serta pemberian upah yang layak bagi buruh perkebunan.

Baca Juga:  PTPN IV Regional 1 Tuai Prestasi di Ajang ICC-OSH, Kenalkan Akur Lintang Gen 2.0

Di sisi lain, Wakil Ketua GAPKI Kalimantan Tengah, Siswanto, menyampaikan bahwa kondisi petani saat ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama terkait globalisasi dan perkembangan teknologi.

“Tantangan ini harus diselaraskan dengan upaya peningkatan produktivitas agar industri sawit tetap kompetitif,” katanya.

Upaya peremajaan sawit rakyat (PSR) juga menjadi salah satu solusi utama. Menurut Dewan Pakar P3PI dan Media Perkebunan, Dr. Gusti Artama Gultom, replanting terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga lebih dari 3 ton CPO per hektar per tahun dibandingkan tanaman tua.

“Kebutuhan CPO untuk pangan dan energi akan terus meningkat, sehingga peremajaan harus segera dilakukan,” jelasnya.

Namun, pelaksanaan replanting tidak lepas dari tantangan, terutama terkait keterbatasan akses informasi bagi petani di daerah. Hal ini menjadi salah satu alasan utama penyelenggaraan TKS.

Ketua Panitia TKS 2026, Hendra J. Purba, menekankan bahwa peningkatan produktivitas di wilayah seperti Kotawaringin Barat tidak lagi bisa mengandalkan perluasan lahan, melainkan harus melalui intensifikasi.

“Salah satu kendala utama adalah penggunaan benih ilegal. Karena itu, dalam TKS ini kami menghadirkan produsen kecambah untuk memberikan solusi langsung kepada petani,” ujarnya.

Sebagai bagian dari rangkaian acara, TKS juga menghadirkan pameran teknologi serta kunjungan lapangan ke PT Sukses Karya Mandiri. Kegiatan ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman teknis petani serta mendorong pengembangan sumber daya manusia di sektor perkebunan.

Melalui TKS 2026, diharapkan petani dapat memperoleh akses informasi, teknologi, dan dukungan yang lebih luas, sehingga produktivitas meningkat dan kesejahteraan petani sawit dapat terwujud.