2 Mei 2026
Share:

Bisnissawit.com – Rendemen kelapa sawit merupakan indikator penting yang menentukan tingkat keuntungan dalam industri sawit, baik di level perkebunan maupun pabrik pengolahan. Dalam forum Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 di Pangkalan Bun, Ir. Posma Sinurat, MT, praktisi P3PI, mengulas secara komprehensif faktor penyebab rendahnya rendemen serta langkah strategis untuk meningkatkannya secara terpadu.

Posma menegaskan bahwa rendemen bukan sekadar angka statistik, melainkan gambaran menyeluruh dari proses produksi yang berlangsung. Setiap penurunan rendemen akan langsung berdampak pada kinerja keuangan perusahaan.

Ia juga menyoroti bahwa ketika rendemen menurun, sering kali terjadi saling menyalahkan antar pihak. Hal ini menunjukkan bahwa pemahaman terhadap akar persoalan masih belum merata di kalangan pelaku industri. Selain itu, manajemen dinilai kerap hanya fokus pada hasil akhir tanpa menelusuri sumber kehilangan yang sebenarnya terjadi di lapangan.

Secara konsep, rendemen merupakan persentase minyak yang berhasil diekstraksi dari total potensi minyak dalam setiap ton tandan buah segar (TBS) yang diolah menjadi crude palm oil (CPO). Rendemen terbagi menjadi tiga komponen utama, yakni rendemen kebun, rendemen pabrik, dan rendemen gabungan.

Pada sisi kebun, tantangan utama adalah memaksimalkan kandungan minyak dalam buah serta memastikan seluruh berondolan dapat terkirim ke pabrik. Oleh karena itu, kualitas panen dan sistem transportasi yang efisien menjadi faktor kunci.

Posma mengidentifikasi sejumlah titik kehilangan (losses) di kebun yang kerap terabaikan, seperti berondolan yang tertinggal di area panen, tercecer di jalan, hingga yang tidak terangkut sempurna. Selain itu, keberadaan buah mentah juga menjadi penyebab utama rendahnya rendemen karena tidak menghasilkan minyak.

Di sisi pabrik, fokus utama adalah memastikan proses ekstraksi berjalan optimal agar minyak dapat dipisahkan secara maksimal. Ia juga mengungkapkan adanya titik-titik kehilangan minyak di berbagai tahap pengolahan, seperti pada fiber, nut, hingga limbah cair. Bahkan, kehilangan minyak pada empty fruit bunch (EFB) dapat mencapai angka signifikan jika tidak dikendalikan.

Baca Juga:  Perusahaan Sawit SSMS Panggil Pemegang Saham ke RUPSLB Akhir Bulan Ini

Posma menegaskan bahwa persoalan rendemen tidak dapat dibebankan pada satu pihak saja. Baik kebun maupun pabrik memiliki kontribusi yang sama penting dalam menentukan hasil akhir.

Untuk mengatasi permasalahan tersebut, ia menawarkan dua pendekatan utama. Pertama, solusi jangka pendek melalui identifikasi cepat terhadap akar masalah dan penetapan langkah korektif yang terukur. Hal ini mencakup analisis faktor-faktor yang dapat dikendalikan serta evaluasi terhadap titik-titik losses di kebun dan pabrik.

Kedua, solusi jangka panjang dengan menerapkan sistem yang berkelanjutan. Posma memperkenalkan konsep Q-PS (Quality People and System), yang menekankan pentingnya kualitas sumber daya manusia dan sistem kerja dalam mencapai produktivitas optimal.

Dalam penutupnya, Posma menyampaikan bahwa penurunan rendemen tidak terjadi secara administratif, melainkan di lapangan, baik di kebun maupun di pabrik. Hal tersebut disebabkan oleh titik kehilangan yang tidak dikendalikan, kualitas SDM yang belum optimal, serta sistem yang belum berjalan dengan baik.

Ia juga menekankan bahwa peningkatan kualitas manusia menjadi kunci utama dalam perbaikan sistem. Dengan SDM yang kompeten, sistem akan berjalan lebih efektif dan menghasilkan kinerja yang optimal.

Menurutnya, produktivitas tidak hanya bergantung pada mesin atau teknologi, tetapi juga pada kepemimpinan, disiplin, serta konsistensi dalam menjalankan sistem kerja.

Dengan pendekatan yang terintegrasi antara kebun dan pabrik serta komitmen terhadap perbaikan berkelanjutan, peningkatan rendemen sawit dapat dicapai. Materi ini menjadi referensi penting bagi pelaku industri dalam meningkatkan efisiensi, produktivitas, dan daya saing secara berkelanjutan.