28 April 2026
Share:

Bisnissawit.com — Kehadiran Dr. Gusti Artama Gultom dalam ajang Teknis Kelapa Sawit (TKS) 2026 di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah pada Selasa (28/4/26) membawa pesan strategis terkait peran kelapa sawit dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam kesempatan tersebut, ia mewakili Prof. Bungaran Saragih, Menteri Pertanian periode 2000–2004, menyampaikan pandangan mengenai posisi sawit dalam menghadapi berbagai krisis ekonomi.

Dalam paparannya, Dr. Gusti menekankan bahwa Indonesia telah melewati tiga krisis besar, yakni krisis moneter 1998, krisis global 2008, serta krisis pandemi COVID-19 pada 2020–2021. Ketiganya memberikan tekanan berat terhadap perekonomian nasional, mulai dari pelemahan nilai tukar hingga meningkatnya angka pengangguran dan kemiskinan.

Namun di tengah situasi tersebut, sektor kelapa sawit justru menunjukkan peran yang konsisten sebagai penopang ekonomi.

“Jika kita amati secara jernih dan objektif, ada satu sektor yang secara konsisten hadir sebagai penyangga, bahkan penyelamat ekonomi nasional di masa krisis yaitu sektor kelapa sawit,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, pada krisis 1998, melemahnya nilai tukar rupiah justru meningkatkan daya saing ekspor crude palm oil (CPO), sehingga sawit menjadi salah satu sumber devisa utama negara. Sementara pada krisis global 2008, sektor sawit tetap bertahan karena memiliki pasar yang terdiversifikasi, mulai dari pangan hingga energi.

Ketahanan tersebut kembali terlihat saat pandemi COVID-19. Ketika banyak sektor terhenti, industri sawit tetap berjalan dari hulu hingga hilir.

“Karakteristik sawit sebagai komoditas esensial yang digunakan dalam kebutuhan sehari-hari membuat permintaannya tetap terjaga meskipun dalam tekanan,” jelasnya.

Lebih lanjut, Dr. Gusti memaparkan sejumlah faktor yang membuat sawit mampu menjadi stabilisator ekonomi. Salah satunya adalah basisnya yang luas dan melibatkan jutaan tenaga kerja, terutama dari kalangan petani. Selain itu, rantai industri sawit yang terintegrasi dari hulu ke hilir menciptakan efek ekonomi yang besar dan berkelanjutan.

Baca Juga:  Saham Sawit CSRA Naik, Pefindo Tetapkan Peringkat Stabil

Ia juga menyoroti kontribusi sawit sebagai penyumbang devisa terbesar di luar sektor migas, yang sangat penting dalam menjaga stabilitas ekonomi makro, terutama saat krisis.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sektor strategis ini masih menghadapi berbagai tantangan, terutama dari sisi kebijakan yang belum terintegrasi dan tekanan global yang semakin kuat.

“Padahal, jika kita belajar dari tiga krisis tadi, sawit bukan sekadar komoditas, sawit adalah instrumen stabilisasi ekonomi nasional,” tegasnya.

Dalam forum TKS 2026 yang juga menghadirkan pameran teknologi dan kunjungan lapangan tersebut, Dr. Gusti turut menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan. Di antaranya adalah perlunya memperlakukan sawit sebagai aset strategis nasional, memperkuat hilirisasi, serta meningkatkan perlindungan dan pemberdayaan petani.

Ia menutup pemaparannya dengan menegaskan bahwa masa depan sawit tidak hanya sebagai penyelamat saat krisis, tetapi juga sebagai motor utama pembangunan ekonomi Indonesia.

“Sejarah telah memberi kita pelajaran berharga, dalam setiap krisis, ketika banyak sektor goyah, sawit tetap berdiri tegak,” pungkasnya.