25 Agustus 2025
Share:

Bisnissawit.com – Dukungan Organisasi Perdagangan Dunia (World Trade Organization/WTO) terhadap gugatan Indonesia atas diskriminasi biodiesel di Uni Eropa membawa angin positif bagi industri sawit.

Keputusan WTO tersebut memberi sinyal bahwa ekspor biodiesel Indonesia berpeluang kembali masuk pasar Eropa, setelah selama ini terbentur aturan diskriminatif Uni Eropa terhadap produk turunan sawit.

Dilansir dari Bloomberg, Senin (25/8/25), menurut analis pasar modal, Reydi Octa, sentimen ini menjadi katalis penting yang memperkuat optimisme terhadap saham sektor sawit, khususnya bagi emiten yang giat berekspansi dan berorientasi ekspor.

Sepanjang semester I-2025, kinerja emiten sawit memang terbilang cemerlang. PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG) membukukan kenaikan laba bersih 44% secara tahunan, PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) tumbuh 81%, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) naik 39%, serta PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) meningkat 19%.

Peningkatan paling spektakuler dicatat PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) yang melonjak 654%, diikuti PT Jaya Agra Wattie Tbk (JARR) dengan 82%, dan PT BW Plantation Tbk (BWPT) sebesar 44%.

Reli saham juga terlihat sepanjang 2025. TAPG naik 102,6% (ytd), DSNG 76,3%, AALI 20%, LSIP 45%, PGUN 240%, JARR 229%, dan BWPT 169%. Tiga nama terakhir menjadi sorotan karena pertumbuhan harga sahamnya paling agresif, sejalan dengan fundamental yang menguat.

Dari sisi komoditas, harga minyak sawit mentah (CPO) yang sempat tertekan kini menanjak kembali ke level MYR4.531 per ton. Harga diperkirakan mampu bertahan di atas MYR4.500 per ton hingga akhir tahun, meski ancaman oversupply global masih ada.

Permintaan dalam negeri melalui program B40, bahkan potensi B50, diyakini mampu menjaga kestabilan harga sekaligus margin produsen. Reydi menegaskan, stabilnya harga CPO di level tinggi akan menopang prospek emiten sawit hingga tutup tahun.

Baca Juga:  Sampoerna Strategic Lepas SGRO, Babak Baru Bisnis Sawit Dimulai

“Selama harga CPO bertahan di atas MYR4.500 per ton, peluang emiten sawit untuk melanjutkan tren pertumbuhan sangat besar, terlebih dengan dukungan WTO yang bisa membuka kembali akses ke pasar Eropa,” jelasnya dikutiip dari Bloomberg Technoz, Senin (25/8/2025).

Sebelumnya, Panel WTO mengabulkan sejumlah klaim Indonesia terkait pengenaan bea masuk imbalan (countervailing duties) Uni Eropa terhadap biodiesel asal Indonesia. Gugatan ini diajukan sejak 2023 karena dinilai bertentangan dengan aturan perdagangan internasional.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut keputusan ini sebagai kabar baik. “Panel WTO mendukung Indonesia terkait dumping duty biodiesel di Eropa,” ujarnya dalam siaran pers, Minggu (24/8/2025).

Dalam rekomendasinya yang dirilis Jumat (22/8/2025), Panel WTO meminta Uni Eropa menyesuaikan kebijakan agar sejalan dengan ketentuan yang berlaku dalam Agreement on Subsidies and Countervailing Measures (SCM Agreement).